A Confession: Insta-Obsession


I love Instagram! Even long before I have my first smartphone!

I always love seeing pictures that capture beautiful, meaningful, things. And it’s my dream to be able to capture those kind of pictures myself and put it on instagram.

Taking photos actually has been my obsession since a long time ago. I don’t have any digital camera or even SLR. What I did was borrowing my friends’ phone and taking photos using them. You know, my phone didn’t have camera feature. It’s an old fashioned phone—I admit it. So, ever since I had my first smartphone—like a year ago—I find myself taking more and more photos.

Like any other newbie, I just took ‘any’ photos—random photos. I didn’t know how to find appropriate angle or lighting. I depended more on the effects/filters in photo editing app.

As time goes by, I kinda start to find my own ‘style’. You know, I find many great, fantastic, fabulous photos just by exploring instagram. Some of them even taken only by phones. It somehow encourages me to ‘produce’ the same photos.

I love photos taken by A Beautiful Mess. They often share simple yet meaningful photos. In my opinion, they can make everyday activities look special through lifestyle photography.

Bit by bit I learn how to get good photos—find the right angle, lighting, etc. And now, as I scroll down my istagram feed, I can see the changes I made through this year.

Advertisements

Exploring Dieng: A 2D1N Tour


vacation

Bagi para traveler, Mei tahun ini menjadi bulan yang meyenangkan. Pasalnya, banyak tanggal merah betebaran. Well, aku juga nggak mau dong menyia-nyiakan tanggal-tanggal merah itu dengan berdiam diri aja di rumah. Kuputuskan untuk sejenak beranjak dari rutinitas dan pergi berlibur.

Yang menarik dari liburan kali ini adalah semuanya dipersiapkan secara dadakan. Bahkan, bisa dibilang tidak ada persiapan sama sekali. Awalnya nih, aku cuma lihat-lihat foto temen di facebook waktu mereka liburan si Sikunir lalu kutunjukkan pada beberapa teman sekantor. Udah lama sih sebenernya aku pengen ke sana, cuma belum ada waktu, biaya, sama temen yang mau diajak. Eh, ternyata… temen-temen sekantorku ini tertarik juga dan singkat cerita, berangkatlah kami ke Dieng.

Kami berempat (cewek semua) pun memutuskan untuk liburan semi-backpacker. Alasannya, itu kali pertama kami melakukan perjalanan wisata sendiri (tanpa ortu atau orang yang mengkoordinir). The cost was more expensive but we’re looking for safety and comfort.

Tanggal 25 pagi kami berangkat dari terminal Condong Catur, Jogja menggunakan shuttle bus Sumber Alam. Kira-kira jam 9 kami berangkat dan setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, kami sampai di kota Wonosobo — pemberhentian pertama sebelum ke Dieng. Tak lama kemudian kami dijemput oleh tour guide, yang sudah kami sewa sebelumnya. Karena perut kosong, kami pun minta diantarkan ke warung makan.

Setelah kenyang, kami pun diantar ke homestay di mana kami akan menginap. Dalam perjalanan, kami disambut hujan deras. This was something which I couldn’t see in Jogja, which is very hot lately. Dan karena hujan itu pula, kami hanya menghabiskan malam di kamar homestay.

Jam 2 pagi kami semua bangun karena kami harus berangkat ke Sikunir jam 3. Kami nggak mandi, tentu saja, bukan hanya karena itu masih terlalu pagi, tapi karena air dan cuacanya begitu dingin. And we went to Sikunir right at 3 o’clock. The road was very narrow, dark, and quiet. And thanks God we had a skilled driver — we barely could see the road because of the thick fog.

It took 30 minutes from Wonosobo to Sikunir, so we arrived there at half four in the morning. And believe me, it’s sooo cold there. I’ve already worn 3 layers of clothes — t-shirt, jumper, and thick jacket — but I still felt the cold.

Setelah tubuh mulai terbiasa dengan cuaca di sana, kami berempat pun naik ke bukit Sikunir ditemani tour guide kami. Berbekal senter di tangan, kami memulai perjalanan naik bukit kami bersama dengan para pendaki yang lain. Karena sudah jarang berolahraga, dan pendakian terakhirku adalah ketika SMA, praktis — walau ini cuma naik bukit — napas mulai ngos-ngosan walau baru setengah perjalanan. Pendakian makin terasa berat ketika trek mulai menanjak dan tidak bersahabat. The track was slippery because of the rain the night before. Alhasil kami harus berhenti beberapa kali selama pendakian — mengumpulkan tenaga. However, perjalanan yang cukup melelahkan itu terbayar ketika kami mencapai puncak. Apalagi ketika kami bisa melihat si golden sunrise secara langsung. It was an amazing moment.

golden sunrise

Kira-kira jam setengah 7 kami turun lalu melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna. Untuk masuk obyek wisata Telaga Warna ini kami harus mengeluarkan uang sebanyak 2K per orang — harga yang sangat murah menurutku. Selain bisa melihat Telaga Warna yang berwarna biru-kehijauan, kami juga bisa melihat Telaga Pengilon — yang letaknya tepat di belakangnya — serta gua-gua yang berada di sekitar Telaga Warna.

Setelah puas berkeliling-keliling Telaga Warna, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang. Di sana kami harus membeli tiket seharga 10K, yang merupakan tiket terusan ke kawasan Candi Dieng.Tidak banyak yang bisa dilihat di sini, hanya kumpulan kawah-kawah kecil dan sebuah kawah besar. Bagi yang punya penciuman sensitif, Kawah Sikidang ini mungkin bukan obyek wisata yang recommended sebab bau belerang/sulfur di sini sangat menusuk — seperti bau telur busuk.

playing

Kami tidak lama berada di kawasan kawah Sikidang — karena bau belerangnya benar-benar menusuk hidung. Setelah berfoto-foto sebentar, kami lalu menuju kompleks Candi Dieng. Karena sudah beli tiket terusan tadi, kami tidak perlu beli tiket lagi dan tinggal menunjukkan tiket yang sudah kami beli tadi. Walau tidak sebesar Borobudur dan tidak semegah Prambanan, candi-candi di kawasan Candi Dieng ini punya daya tarik tersendiri. Cuaca yang dingin dan banyaknya pepohonan dan taman yang cantik di sekitar candi, membuat pengunjung betah bermain-main di sana. Uniknya lagi, selain candi-candi yang berdiri kokoh di sana, masih ada beberapa candi lain yang masih dalam proses ekskavasi (penggalian). Jadi, bagi para arkeolog, kawasan Candi Dieng ini merupakan obyek yang menarik.

Our vacation wasn’t ended there. Dari kawasan candi, kami diajak ke sebuah kebun teh. It was my first time. And it was awesome. Dari sana kami juga bisa melihat telaga Menjer — sebuah telaga buatan yang digunakan untuk irigasi — dari atas. Katanya, kalau mau, kami bisa wisata naik perahu mengelilingi telaga. Tapi karena sudah siang dan kami sudah lapar, kami memutuskan untuk pulang saja.

Dan benar saja, jam 12, sesampainya kami di homestay kami langsung disuguhi makan siang. Tanpa malu-malu kami langsung menyantap habis nasi, sop, tempe, dan ayam goreng yang disajikan di meja makan. Perut kenyang, kami pun kembali ke kamar untuk beristirahat. Beberapa dari kami ada yang langsung mandi, ada pula yang memilih untuk tidur.

Setelah packing, kira-kira jam 3 sore kami check out. Masih diantar tour guide kami, sebelum pulang kami mampir beli oleh-oleh. Nah, karena malam sebelumnya kami tidak sempat muter-muter kota Wonosobo, sore itu, sebagai obat kecewa, kami menyempatkan diri berfoto di depan alun-alun kota Wonosobo — sebagai pengingat saja kalau kami pernah berkunjung ke sana.

Dari alun-alun kami lalu diantar ke pool-nya Sumber Alam, yang ternyata letaknya tidak jauh dari alun-alun. Jam lima lebih sedikit, shuttle bus menuju Jogja berangkat dan berakhir pulalah wisata kami. Tepat pukul 8 malam kami sampai di terminal Condong Catur, Jogja. Lalu dengan Trans Jogja, kami pun pulang ke kos kami masing-masing.

Nah, buat kalian-kalian yang pengen juga berwisata kayak kita, ini nih rincian biayanya:

  • Transportasi dalam kota (Trans Jogja) PP = 6K
  • Transportasi Jogja-Wonosobo PP = 90K
  • Penginapan/homestay + makan = 200K/4 orang (1 kamar, 2 bed)
  • Sewa mobil + tour guide = 500K/4 orang 
  • HTM Telaga Warna = 2K
  • HTM Kawah + Candi = 10K

Total biaya (1 orang) = 283K*

*Belum termasuk beli oleh-oleh dan makan di luar homestay

Jalan-jalan Muterin Jogja Pakai Trans Jogja


Kata orang, liburan di Jogja itu nggak afdal (komplet) kalau belum ke Malioboro. Tapi itu kata orang. Buatku yang memang tinggal di Jogja, Malioboro isn’t a-must-visited-place anymore. Tapi nggak ada salahnya juga mengisi liburan dengan jalan-jalan di Malioboro. Apalagi cara menuju Malioboro-nya nggak biasa. Naik bus! Trans Jogja tepatnya.

Jadi, Trans Jogja itu adalah nama bus umum di Jogja (semacam Trans Jakarta di Jakarta, hanya saja tidak punya jalur khusus atau bus way). Beda dengan bus umum biasanya, Trans Jogja ini lebih aman – terutama dari pengamen –  dan ber-AC.  Biar sedikit lebih mahal, tapi tarifnya nggak beda jauh dengan bus umum kebanyakan, Rp 3000 sekali jalan. Keuntungan lainnya, kamu nggak perlu keluar lebih (bayar lagi) kalau mau ganti jalur – dengan catatan, kamu kamu nggak keluar dari halte.

Nah, lanjut ke cerita jalan-jalannya. Jalan-jalan kali ini aku bareng sama bulikku. Karena si bulik baru sampai Jogja paginya (bulikku tinggal di Semarang), jadi aku berangkat ke Malioboronya sendirian. Jam 9.30 pagi aku udah nongkrong di halte Trans Jogja depan kampus Sanata Dharma. Untungnya, nggak begitu lama, si bus 2B yang bakal nganter aku ke Malioboro datang. Bus lalu melaju melewati depan UNY, Panti Rapih, lalu setelah sampai halte Gramedia aku turun. Untuk mencapai Malioboro, aku harus transit dulu di halte Gramedia lalu naik bus 3A. Nah, si 3A itulah yang nanti bakal langsung menuju Malioboro.

As expected on holiday, the 3A bus were full of people. Almost all of them wanted to go to Malioboro. Jadi aku harus rela berdiri di bus – dari halte Gramedia sampai Malioboro. FYI, di Malioboro ada 3 buah halte Trans Jogja – Malioboro 1 terletak di dekat mal, Malioboro 2 terletak di dekat kantor gubernur, dan Malioboro 3 terletak di dekat Benteng Vredeburg. Karena aku akan ke mal, jadinya aku turun di halte Malioboro 1.

Karena belum sarapan, aku memutuskan ke McD dulu. Dan aku ketemu sama bulikku di situ juga. Setelah perut terisi, kami – aku dan bulikku – lalu jalan-jalan muterin mal. Sebenarnya, tujuan kami ke Malioboro hari itu – selain jalan-jalan tentunya – adalah nyari kado buat kakak sepupuku yang bulan depan bakal nikah. Tapi akhirnya, selain beli kado, kami juga beli barang-barang lainnya  (sigh, women).

Kira-kira jam satu kami udah selesai belanja dan memutuskan untuk makan. Awalnya nih, kita mau makan di depan pasar Beringharjo, makan pecel gitu. Tapi nih, karena banyaknya manusia yang lalu lalang di sana – entah mau masuk atau keluar pasar – kami mengurungkan niat kami. Rasanya kan nggak enak, makan tapi banyak orang lewat depan kita. Mana space buat duduknya sempit lagi. Yah, buat beberapa orang, wisatawan dari luar kota terutama, makan di tempat seperti itu punya kenikmatan/cerita tersendiri. Silakan mencoba bagi yang ingin mencoba. Dan buat kami berdua, nongkrong di depan pasar Beringharjo siang itu cuma menghasilkan bakpia dua kotak.

Akhirnya, setelah jalan lumayan jauh (balik lagi ke arah utara – ke arah mal), kami memutuskan buat makan di dekat kantor gubernur – di belakang halte Malioboro 2 persis. Dan akhirnya suara gemuruh di perut berhenti setelah aku melahap satu porsi bakso dan segelas es jeruk. Fyuh, kenyang. Lalu, sambil duduk lesehan, kami melepaskan lelah di sana dan beberapa pengamen dan pengemis juga sempat mampir. Nah, ini nih nggak enaknya makan di sepanjang pinggir jalan Malioboro. Hampir tiap menit ada ajad pengamen atau pengemis yang dateng. Makan nggak seberapa, eh, duit yang dikeluarin buat pengamen sama pengemis malah banyak.

Kira-kira jam 14.30 kami pulang. Aku naik Trans Jogja dan bulikku naik taksi ke daerah alkid, ke tempat travel. Dari halte Malioboro 2, aku naik bus 2A. Nggak seperti pas berangkat tadi, pas pulang ini aku nggak perlu transit dan ganti bus karena si 2A ini bakal langsung nganter aku ke Mrican. Hanya saja, waktu tempuhnya jauuuuh lebih lama, + 1 jam. Pasalnya, si 2A ini muter dulu, hampir setengah kota Jogja – Malioboro, Taman Pintar, Purawisata, Kota Gede, Gembiraloka, Jln. Kusumanegara, Kota Baru, Bethesda, Panti Rapih, UNY, dan baru sampai Mrican. Sedikit berjalan kaki dan akhirnya sampai juga aku di kosan, kira-kira jam 15.30.

Overall, jalan-jalan di Malioboro-nya sih biasa aja. Tapi buatku, yang luar biasa itu adalah perjalanan dengan busnya. Tujuannya sih cuma Malioboro tapi malah jadi ngelewatin Tugu, Stasiun, Purawisata, Kota Gede, Gembiraloka, dll, yang nggak bakal kulewatin kalo aku naik kendaraan pribadi. Satu lagi, kata orang TJ ini emang kurang, bahkan nggak efektif untuk transportasi umum di Jogja. Aku bisa ngerti sih, karena emang jalurnya muter-muter. Tapi, dari pengalamanku tadi, aku rasa TJ ini bisa dijadikan alternatif buat transportasi wisata karena hanya dengan Rp 3000 kamu bisa keliling Jogja.

(Literally) Being Lost in The Middle of Nowhere


Kemarin ini aku baru aja ngalamin kejadian yang cukup mendebarkan — and a little bit creepy. Jadi, seperti biasanya, weekend kemarin aku pulang ke Wonosari. Tidak seperti biasanya, hari Minggu-nya kami sekeluarga pergi ke gua Maria Tritis untuk mengikuti misa penutupan novena tahun ke-3 di sana (I’ll tell the detail later, in the next post).dark road

Karena kondisi geografisnya yang cukup menantang – naik bukit – ziarah ke gua Maria Tritis itu cukup menguras tenaga. Alhasil, sampai rumah, kami sekeluarga tepar. Aku juga sama. Renacana pulang ke Jogja sore pun batal. Aku dan adikku akhirnya berangkat dari rumah kira-kira jam 7 malam.

Nah, kejadian mendebarkan dan agak menakutkan itu baru akan dimulai dari sini. Karena jalan utama yang menghubuungkan Jogja-Wonosari sedang diperbaiki, aku memutuskan untuk lewat jalan alternatif. I chose to drive through Playen instead of Gading (those who often go to Wonosari should’ve known about this). Kalau lewat jalan itu, kita bisa menghindari macet dan langsung motong jalan ke pertigaan Gading. Tapi, di sinilah masalahnya – aku nggak terlalu kenal daerahnya. Aku baru beberapa kali lewat jalan itu – and I wasn’t really paying attention to the navigation nor the road signs.

Akhirnya, karena nggak terlalu kenal daerahnya, plus (mungkin) kurang konsentrasi, kondisi jalan yang gelap dan nggak perhatiin petunjuk jalan, aku salah ambil jalan. Awalnya nggak ‘ngeh’  sih kalo udah salah jalan, jadi lempeng aja gitu jalan terus. Lama-lama, setelah rumah-rumah dan lampu penerangan di kanan-kiri jalan mulai jarang, aku mulai curiga jangan-jangan aku salah jalan. Tapi, entah kenapa aku masih aja jalan terus. Lama-lama, setelah benar-benar nggak ada rumah-rumah dan lampu jalan di kanan-kiri jalan, aku baru yakin kalau aku salah jalan.

Waktu itu, jalanan sepi banget. Cuma ada aku, adikku, dan motorku di jalan itu. Nggak ada lampu jalan. Satu-satunya penerangan yang ada berasal dari lampu motorku dan cahaya bulan yang malu-malu muncul malam itu. Di kanan dan kiri jalan cuma ada deretan pohon-pohon. Sepertinya sih kami udah masuk kawasan hutan Wanagama, hii. Jadi, bisa ngebayangin dong kengerian yang waktu itu menyerang kami berdua. Untung waktu itu aku berdua sama adikku, kalau cuma sendirian, aku nggak tau deh gimana jadinya. I, then, slowed down my motorbike speed, looked around the area, and finally decided to turn around.

Di sepanjang jalan aku dan adikku nggak henti-hentinya berdoa karena jujur aku takut banget waktu itu. Bukan takut bakal ketemu hantu atau sejenisnya, tapi takut aja kalau kami bener-bener tersesat dan nggak nemuin satu orang pun yang bisa ditanyain. Apalagi kami cewek semua. Duh, bener-bener campur aduk deh perasaanku waktu itu.

But, finally, with God’s guidance, we’re back to the right track. Fyuh, lega banget. Kami lalu melanjutkan perjalanan dan sampai di Jogja jam 8.30 malam, setengah jam lebih lama. Gara-gara itu aku jadi nggak berani lagi coba-coba lewat jalan yang belum benar-benar kukenal, tanpa petunjuk, sendirian, dan malam-malam. Jadi, pelajaran yang bisa kuambil dari pengalaman ini adalah kalau mau coba rute baru, mending pagi atau siang hari deh, terang. Petunjuk-petunjuk jalan pun kelihatan dengan jelas.

Jalan-jalan Jumat Malam


Yup, as the title, “Jalan-jalan Jumat Malam”, I visited some events on last Friday night. Awalnya sih cuma nemenin adekku aja, pasalnya tuh acara diadain sama sekolahnya, SMA 3 YK. Dan sebenernya agak males aja awalnya dateng ke acaranya anak SMA. Kenapa? Karena yang dateng (kebanyakan) pasti anak-anak SMA – from the same school – dan pas adekktu ketemu temen-temennya, aku pasti dikacangin, which is annoying.

Tapi eh, tapi… setelah dateng ke venue-nya, it’s not as bad as I imagined. Event yang kudatengin kemarin bertajuk DEDICART. Nah, dari namanya aja pasti tau dong, acara macam apa itu. Yup, ini semacam acara yang didedikasikan untuk seni – seni rupa, seni musik, etc. Format acaranya dibuat semacam pameran seni; ada beberapa karya seni yang dipamerkan, mulai dari lukisan, patung, sampai visualization video. Dan walaupun dibuat oleh anak-anak SMA, karya-karya yang dipamerkan, menurutku, luar biasa. Kreatif. Ada beberapa di antaranya yang idenya cukup unik dan menarik, sekaligus menggelitik *tsaah*. To be honest, aku sendiri nggak kepikiran pada hal-hal macam itu. Salut deh buat anak-anak itu.

PicMonkey Collage (2)

After that, I was dragged to see another exhibition, di tempat berbeda, acara yang berbeda, tapi masih punya benang merah – seni. Kali ini acaranya anak arsitektur UGM yang diadakan di museum Benteng Vredeburg. Kenapa ke sana? Simply because my little cousin, who dragged me there, wants to enter architecture faculty later. So, she wants to find out what do architecture students do, what thing they make, etc. Jadi, terdamparlah aku di antara maket-maket dan poster-poster desain karya para calon arsitek itu. Jujur, aku nggak bisa menikmati pamerannya. Pertama, ruangannya panas pake banget. Kedua, aku sama sekali nggak ngerti apa yang dipamerin. Di mataku nih, semua cuma kelihatan kayak rumah-rumahan mainan (no offense). It’s not because they all trash but simply because I don’t understand architecture (LOL). Tapi  nih, aku yakin, semua maket dan desain yang dipamerin di sana itu merupakan outcome dari otak-otak yang kreatif. Sangat kreatif malah.

Dari benteng Vredeburg, aku lalu meluncur ke depan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Di sana sedang berlangsung acara yang masih satu rangkaian dari DEDICART. Di sana ditampilkan penampilan-penampilan yang didedikasikan untuk seni dalam wujud yang berbeda — dari yang dipamerkan yang tadi udah kulihat. Let’s say itu adalah “panggung seni”. Jadi DEDICART mengundang beberapa musisi Jogja dan manggung di sana. Dan aku cukup beruntung karena malam itu aku dapet kesempatan nonton Rotra manggung secara langsung. Gratis pula (hahaha).

Jadi, intinya, Jumat malam kemarin berkesan banget buatku. Jalan-jalan singkat itu juga memberikan sedikit pelajaran bahwa seni itu punya banyak bentuk. Dan apa pun bentuknya, seni yang bagus itu perlu diapresiasi.

Why Do You Need Infographics?


Seiring dengan makin berkembangnya media informasi, data-data yang ditampilkan tidak lagi sekadar berupa tulisan, tapi juga didampingi dengan tampilan visual yang menarik. Nah, media-media ini (koran, majalah, TV, dll.) kemudian mengemas informasi-informasi tersebut dalam sebuah infografis.

  • Apa itu infografis?

Infografis adalah representasi visual grafis dari informasi, data, atau ilmu pengetahuan. Informasi-informasi atau data-data yang disampaikan melalui infografis ini bisa mencakup informasi-informasi yang kompleks/rumit lho. Tapi berbeda dengan penyampaian konvensional (teks/tulisan) yang terkesan panjang dan membosankan, informasi dalam infografis ini disajikan secara singkat namun tetap lengkap.

Sebenarnya, infografis ini sudah ada sejak lama. Ingat dengan grafik berbentuk bars atau lingakaran yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran? Nah, itu juga termasuk infografis lho. Seiring dengan perkembangan zaman, bentuk-bentuk infografis ini juga mengalami perkembangan, tidak lagi hanya berbentuk bars dan lingkaran. Let’s say, infographics are when statistics meet art.

  • Kenapa infografis?

Sekarang ini infografis banyak digunakan di koran, majalah, dan TV untuk menyampaikan informasi secara ringkas namun tetap berbobot. Keberadaan visual juga membuat informasi yang ditampilkan/disampaikan jadi lebih menarik dan mudah dimengerti. Nah, ini membuat infografis jadi nge-trend belakangan ini. Kenapa? Selain dua alasan di atas, ada beberapa lagi alasan kenapa infografis ini disukai sebagai media penyampai informasi daripada teks biasa. Untuk lebih jelasnya, coba deh perhatikan infografis berikut ini.

The Era of Visual Mediation

by infographicly.
Explore more visuals like this one on the web’s largest information design community – Visually.

Nah, sudah jelas kan sekarang? Jadi, sudah sifat alami manusia kalau manusia akan lebih tertarik pada gambar (visual). Selain itu, 83% proses belajar itu terjadi/dilakukan secara visual (melalui proses melihat). Informasi yang diperoleh dari infografis pun akan bertahan lama (diingat lebih lama) daripada yang diperoleh dari membaca teks.

      • Infografis di buku pelajaran

Infografis ada di buku pelajaran? I’d say it will be a great idea. Infographics are graphic visual representations of information, data, or  KNOWLEDGE, remember?  Coba deh, bayangin kalau infografis kayak gini ada di buku pelajaran Kewarganegaraan-mu.

Infografis-Ayo-Vote-02-02-02-02-021

Ngebacanya pasti lebih asyik daripada ngebaca berbaris-baris tulisan yang biasa menghiasi buku-buku pelajaran kita. Aku juga yakin, kalau informasi yang disajikan dalam bentuk infografis seperti itu akan lebih mudah dimengerti. Jadi buat para pembuat dan penerbit buku-buku pelajaran, nggak ada ruginya lho masukin infografis ke buku-buku kalian. 😀

I’m A Happy Blogger


nexusae0_Lenovo-Yoga-Tablet_3

I’ve been blogging since three years ago. However, until now, I’m still learning how to blog. When I googling about blogging, then there will be articles like “5 ways to increase your blog traffic” or “Make your blog successful with three simple steps” or “Sell your soul and gain 100 blog followers!” etc. But I never see anything about actually enjoying blogging.

Honestly, I’m not the kind who blog with specific theme such travel, fashion, food, etc. I simply write what I want to write. And, maybe that’s the reason why my blog traffic’s always up and down. There were times when I didn’t blog for a long time and the traffic went down rapidly. Yikes! however, I’d be lying if I said that I was the least bit bothered by being unable to blog. I was kind of relieved. Well, I was a college student back then (in my first year on blogging). I’ve been having tough time being a collage student, studying, and managing my blog. There were time when I’ve even given serious thought on giving up blogging.

However, I also find that blogging can be a kind of ‘escape door’ from my boring daily activities. Blogging is fun. First and foremost, it should always be fun. Obviously if you’re a full-time blogger who makes your living from blogging, sometimes it won’t be fun and you’ll have to do it anyway, but this post is directed more towards people like me (and maybe you?) who primarily blog because we enjoy documenting our lives and sharing our favorite things and connecting with other people. There are a lot of things that can put a damper on blogging but if you can maneuver your way around them and concentrate on the good things, you can be a happy blogger.

First of all, we have to ignore any numbers, blog traffic and follower. In my first year, I used to check my follower count constantly. It would go up by two and I’d get excited and then it would drop by three and I’d be horribly crushed. Then, I decided to just ignore them. Thinking about these numbers makes me crazy.

It goes to comments as well. I do read the comments (and also replay them) when I moderate them but now, I don’t really paying attention to its number. Well, ignoring numbers isn’t just about avoiding disappointment, it’s also about enjoying blogging for the act of blogging and not for the goal of gaining followers.

Write what you want to write is also a way to be a happy blogger. If you blog about things just because you think other people want to read them, you’re not going to be a happy blogger. Blog about what you like. And honestly, I’m so guilty of this myself. I can’t tell you how many times I broke the rules I made. At first I tried to find references from other blogs but then I ended up copying their style. Later on, I learn that being yourself and posting about the one-of-a-kind interests that make you YOU will make you a happy blogger.

In sum, blog about the things you love, don’t let your blog numbers get you down, and be proud of the work that you put into your posts. Post what you like and then like what you post. And above all, have fun. Enjoy blogging and just be happy.