#JelajahPantai: Berburu Sunset ke Pantai Drini


Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Yogyakarta yang mempunyai garis pantai yang panjang, dimulai dari Pantai Baron di ujung barat hingga Pantai Wediombo di ujung timur. Walaupun memiliki ombak yang cukup ganas karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, pantai-pantai di sepanjang Gunungkidul ini tetap menarik perhatian banyak orang. Masing-masing pantai mempunyai ciri khasnya sendiri.

Jpeg

Beberapa waktu yang lalu, bersama beberpa teman, saya akhirnya bisa menghirup bau pantai setelah sekian lama. Terakhir kali main ke pantai rasanya sudah sekitar 2-3 tahun yang lalu. Itu pun saat liburan lebaran, di mana pantai dipenuhi lautan manusia – tidak ada kesempatan untuk menikmati suasana pantai.

Pantai Drini menjadi tujuan kami. Ada beberapa alasan kenapa kami memilih lokasi ini. Pertama, kami sedang berburu sunset. Kedua, kami mencari pantai yang punya sedikit kemungkinan dipadati pengunjung mengingat hari itu hari Sabtu.

2016102171235.jpg

FYI, saya adalah penduduk asli Gunungkidul, jadi kami berangkat kira-kira pukul 2 siang setelah menunggu teman kami yang lain dari Jogja. Dari rumah, yang terletak di tengah kota Wonosari, sampai ke area pantai diperlukan waktu kira-kira 1-1,5 jam. Jadilah kami sampai di pantai sekitar pukul 3 – atau setengah 4, saya lupa. Matahari masih cukup tinggi dan ternyata perkiraan kami yang kedua salah. Pantai ramai pengunjung. Mungkin ini karena pesona Puncak Kosakora yang sedang nge-hits.

P1030155.JPG

Pantai Drini 6 tahun yang lalu (2010)

Penampakan Pantai Drini sudah banyak berubah dari terakhir kali saya ingat, sekitar 5-6 tahun lalu. Waktu itu masih banyak pandan laut di sepanjang pantai bagian timur dan pulau karang kecil yang membelah Drini menjadi dua pun masih tampak asing. Tak banyak orang yang berani menyeberang ke sana dan mendaki.

Jpeg

Pantai Drini 2016

Sekarang, tidak ada lagi deretan pandan laut yang hijau. Mereka digantikan gazebo-gazebo kecil dan payung berwarna-warni yang berderet memanjang di sepanjang pantai. Walau begitu, pesona Pantai Drini masih memikat. Laguna di sisi timur yang tenang dan panatai di sisi barat dengan ombak yang “garang” ditambah pulau karang kecil di tengah-tengahnya – yang sekarang lebih terkenal dengan bukit Kosakora – memberikan pemandangan yang luar biasa.

Cukup lama kami menunggu, akhirnya perlahan matahari mulai turun. Pengunjung sudah mulai berkurang. Sedikit sepi dan warna kuning keemasan mulai mewarnai langit di sebelah barat. Kami pun bergegas berpindah ke sisi barat pantai, mencari spot terbaik untuk mengabadikan sunset melalui mata kamera ponsel kami.

Walaupun langit sore itu tidak begitu cerah karena hujan belum lama mengguyur Wonosari, namun sunset yang kami lihat tetap luar biasa, beautiful! Beaches never fail me, indeed. Ah, tidak sabar untuk menjelajah pantai-pantai lainnya di lain kesempatan.

Advertisements

Menikmati Pagi dari 700 mdpl, Gunung Api Purba Nglanggeran


“Thousands of tired, nerve-shaken, over-civilized people are beginning to find out that going to the mountains is going home; that wildness is a necessity”

John Muir, Our National Parks

IMG_20150523_150649[1]

Aku nggak biasanya bangun pagi. Tapi hari itu, bahkan sebelum alarm HP-ku berbunyi, which is set to 5 a.m., aku udah bangun. Bukan…bukan karena sahur. Pagi itu aku dan adikku berencana melihat sunrise dari puncak gunung api purba Nglanggeran. Tidak perlu mandi. Cuci muka dan sikat gigi saja cudah cukup. Jam menunjukkan pukul 5. Ah, sudah kesiangan. Buru-buru kuambil kunci motor and vroom…off we go.

Butuh + 45 menit untuk sampai di Langgeran dari Jogja. Waktu yang cukup singkat, mengingat itu masih sangat pagi, belum banyak kendaraan yang lalu-lalang. Namun sepertinya kami sudah tidak bisa melihat sunrise. Pukul 6 kami sampai di area parkir dan sepertinya matahari sudah naik. Setelah memarkir motor, kami lalu membeli tiket masuk seharga Rp 5.000. Tiket di tangan dan pendakian pun dimulai.

IMG_20150526_094936[1]

Sebenarnya aku ini bukanlah termasuk anak pecinta alam yang sudah mendaki banyak gunung. Dibanding adikku yang sudah pernah mendaki Prau dan Merbabu, tentu pengalamanku yang baru pernah naik Bukit Sikunir dan Gunung Gambar ini tentu tidak ada apa-apanya. Aku bukan juga tipe orang yang rajin olahraga. Jadi jelas, belum sampai setengah perjalanan aku sudah terengah-engah—what a shame!. However, surrender isn’t in my dictionary. Walau mesti berhenti berkali-kali, pendakian tetap berlanjut.

2015-06-23%2006.43.13%201[1]

Setengah jam kemudian kami sampai di puncak. What a relieve! Perjuanganku ternyata nggak sia-sia. Tidak mendapatkan sunrise pun tidak masalah. Pemandangan yang kami dapatkan dari atas gunung sungguh luar biasa; embung Nglanggeran yang biru, pohon-pohon hijau, sampai tower-tower provider yang berdiri kokoh di antara hamparan sawah yang hijau.

2015-05-23%2012.39.47%201[1]

2015-05-23%2012.39.52%201[1]

Untuk waktu yang cukup lama kami hanya duduk diam, menikmati pagi dari puncak tertinggi Gunnungkidul. Menikmati suara kicauan burung, semilir angin gunung, sinar matahari pagi hingga kabut pagi yang menyelimuti bumi pagi itu mulai menghilang digantikan hijaunya hutan yang disembunyikannya.

IMG_20150523_125345[1]

Hari makin siang, matahari makin terik, dan suasana makin ramai—sudah makin banyak pengunjung. Perut kami pun sudah lapar. Tandanya kami harus segera turun.

Dibandingkan saat mendaki, waktu yang dibutukan untuk turun jauh lebih cepat. Namun, karena tidak terbiasa dengan kegiatan fisik yang berat, acara turun gunung harus disertai kaki yang tremor—maklum, pendaki amatir. Sekitar pukul 9 kami sampai di area parkir dan langsung memutuskan untuk pulang.

Overall, pendakian ke Nglanggeran kemarin cukup melelahkan tapi juga menyenangkan. Recommended deh buat kamu-kamu yang suka nature dan baru belajar naik gunung. Dijamin nagih!

Protect Paradise, Save The Earth


Tau nggak sih, setiap satu jam, hutan seluas 300x lapangan bola hancur dan ekspansi kebun kelapa sawit menjadi salah satu penyebab utamanya? Kebakaran hutan yang baru saja terjadi di Riau contohnya. Kabut asap yang ditimbulkan sekarang ini membahayakan warga. Seperti yang dilansir dalam Tempo.co, Senin, 3 Maret 2014 kemarin, kualitas udara di sana sudah masuk kadar berbahaya.

fact_1

Nah, itu baru dampak jangka pendek yang dirasakan. Menurut Greenpeace nih, kerusakan hutan di Indonesia ini 25%-nya disebabkan oleh konversi hutan dan areal gambut menjadi perkebunan kelapa sawit. Nah lho, makanya nggak heran deh, kalau Indonesia jadi salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia (kembali lihat kasus kebakaran hutan di Riau).

Nggak cuma itu, rusaknya hutan itu juga berimbas pada rusaknya habitat binatang dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Populasi Harimau Sumatera yang sudah diklasifikasikan sebagai ‘terancam punah secara kritis’ pun kena imbasnya. Nggak cuma Harimau Sumatera, Orang Utan dan banyak spesies hutan lainnya juga terancam punah.

collect_1

Ironisnya, hasil dari perkebunan sawit yang juga dihasilkan dari pengerusakan hutan ini sebenarnya dikonsumsi oleh manusia sendiri (termasuk kita-kita juga, lho). Let’s say peralatan mandi, bahan bakar, sampai produk kemasan. Kita secara nggak sadar (atau malah nggak peduli) udah ikut menyumbang kerusakan hutan dengan menggunakan produk-produk tersebut. Jadi, mulai sekarang perhatiin deh, barang-barang yang kamu beli dan konsumsi supaya nggak menggunakan produk dengan kandungan sawit yang dihasilkan secara tidak bertanggung jawab dan membahayakan alam.

Jadi udah kebayang kan, kalau pengerusakan hutan terus terjadi. Mungkin dalam kurun waktu yang nggak lama, kita udah nggak bisa lagi menikmati keindahan alam Indonesia. Untuk itu, yuk, sama-sama ikut menjaga alam kita. Bergabunglah dengan Greenpeace dan tanda tangani petisi kampanye #ProtectParadise untuk menyelamatkan hutan kita. Caranya tinggal klik banner #ProtectParadise yang terdapat di sidebar blog ini. Bergabunglah bersama ratusan ribu orang lainnya sebagai langkah awal melindungi hutan Indonesia.