Mengajar & Belajar di Sekar Kedhaton


Belum lama ini aku dan beberapa temanku baru saja menyelesaikan sebuah proyek mengajar di salah satu restoran di Yogyakarata, tepatnya di Sekar Kedhaton. Sekar Kedhaton ini adalah sebuah restoran yang mengusung nilai budaya Jawa, baik dalam makanan ataupun arsitektur bangunannya.

1

Antik dan menarik. Itu kesan pertama yang kudapat saat memasuki restoran tersebut. Antik, karena bangunan yang dipakai adalah bangunan kuno yang arsitekturnya merupakan perpaduan antara budaya Jawa, China, dan Belanda. Unsur Jawanya diperlihatkan dari ukiran-ukiran di tiang-tiangnya yang berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan, foto-foto dokumentasi keraton yang merupakan koleksi pribadi kepunyaan si pemilik restoran, serta beberapa perabotan yang bernuansa Jawa.

Seperti kebanyakan bangunan peninggalan Belanda, restoran ini mempunyai tembok yang tebal. Tiang-tiangnya pun tinggi dan besar. Unsur China-nya? Well, aku tidak terlalu memperhatikan bagian mana yang memperlihatkan unsur tersebut. Yang pasti salah satu dari waitress di sanalah yang menceritakannya padaku.

Menjadi menarik pula ketika aku mengetahui kalau cara memesan dan menyajikan makanan di restoran tersebut mengadaptasi cara Barat. Ada starter, main course, and dessert. Sedangkan menu yang ditawarkan adalah menu Jawa. Hmm, menarik bukan. Sebuah perpaduan yang menarik antara unsur tradisonal dan modern.

10

Seperti yang sudah kujelaskan di awal tadi, alasan utamaku berada di Sekar Kedhaton adalah untuk mengajar. Di sana, aku dan beberapa temanku mengajarkan Bahasa Inggris bagi para waitress yang bekerja di sana.  Awalnya agak dag-dig-dug juga, karena itu adalah kali pertama aku mengajar waitress. Tapi ternyata setelah dijalani malah menjadi ketagihan. Pasalnya para peserta pelatihan selalu antusias saat belajar dan senang jika mendapatkan pengetahuan yang baru. Aku pun juga merasa senang, sekaligus tertantang. Tertantang karena aku harus mampu memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selain mengajar, aku juga – secara tidak langsung – belajar di sana. Yang paling utama sih belajar tentang makanan. Bukan mencicipi makanan tentunya, walaupun pernah, tapi belajar tentang istilah-istilah yang berkaitan tentang makanan dan restoran. Apalagi Sekar Kedhaton adalah restoran yang menawarkan makanan khas Jawa. Banyak nama bahan-bahan yang jarang kudengar dan harus kucari nama dalam bahasa Inggrisnya. Kalau tidak ada, ya berarti aku harus memberikan deskripsi yang tepat – dan tentu saja dalam bahasa Inggris.

14082012219_Amber_Vignette

Ngomong-ngomong soal makanan, aku dan teman-temanku yang ikut mengajar di Sekar Kedhaton juga pernah ikut merasakan beberapa menu makanan dan minuman di sana. Untuk rasa sih menurutku standar. Bagi beberapa orang, yang biasa makan makanan khas Jawa – Jogja terutama,  mungkin ada makanan yang terasa kurang bumbu. Aku sebenarnya tidak pernah bertanya langsung pada pihak restoran, tapi menurut analisisku sendiri hal itu mungkin dikarenakan penyesuaian dengan lidah turis asing. Just for your information, mayoritas tamu yang datang dan makan di Sekar Kedhaton adalah tamu asing, a.k.a dari luar negeri. Lidah mereka tidak terbiasa dengan makanan yang banyak bumbunya seperti di Indonesia, terutama pedas.

Masalah harga? Jangan tanya deh. Kalangan menengah seperti aku ini pasti berpikir (lebih dari) dua kali kalau mau makan di sana. Ingat, mayoritas pengunjung restoran ini adalah bule dan tentu saja bukan bule kere lho. Oleh karena itu wajar kalau, ehem, harganya pun menyesuaikan kantong mereka – alias mahal.

7_Julia_Rainbow

Nah, yang paling membekas dan membuat kami kangen dengan Sekar Kedhaton, selain suasananya tentu saja, adalah Gulas Squash – minuman khas Sekar Kedhaton yang terbuat dari asam Jawa, gula Jawa, dan campuran soda. Rasanya? Delicious. Pokoknya harus minum Gulas Squash kalau berkunjung ke Sekar Kedhaton. Dijamin tidak akan mengecewakan.

Well, mengajar di Sekar Kedhaton merupakan pengalaman yang tidak terupakan. Begitu juga dengan pengalaman makan-makannya.

Advertisements

Lunch at DIDYPI


Sebagai mahasisiwa semester akhir yang sudah jarang menjamah kampus, aku jadi seperti pengangguran yang kurang kerjaan. Karena merasakan kebosanan yang sama, aku dan teman-temanku memutuskan untuk sekedar makan di luar. Karena bosan dengan tempat makan yang biasa kami kunjungi, kami memutuskan untuk hunting tempat makan.

Atas rekomendasi beberapa teman, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di sebuah tempat makan di daerah Gejayan. Persisinya sebelum percetakan Kanisius. Namanya adalah “DIDYPI: Café Gerobak-ku”. Sekilas tempat makan yang kami datangi itu terlihat seperti rumah biasa. Usut punya usut, tempat makan yang satu ini memang awalnya adalah usaha rumahan, dan sampai sekarang pun ciri khas tersebut masih dipertahankan.

Selain ciri khas usaha rumahan, hal unik lainnya dari tempat makan ini adalah suasana garden yang terasa begitu kental. Pohon besar, pot-pot tanaman, hingga furniture seperti kursi dan meja yang terbuat dari kayu – cukup menyejukkan suasana di cuaca yang panas.

Makanan yang disajikan memang tidak terlalu banyak karena main menu di tempat ini sebenarnya adalah jus buah. Namun jangan khawatir, bagi yang ingin makanan berat tempat makan ini juga menyediakan makanan seperti spaghetti, macaroni cheese, cheese tart, nasi goreng, dan banyak lagi. Untuk harga? Jangan khawatir, tarif kantong mahasiswa kok.

tania

kursi

vito

pohon

ika

ratna

DSC_0797