A Sudden Vacation in Bandung


CameraZOOM-20140201112045782-edit

Still remember with my December wish list? The 5th wish? Yup, having a real vacation. Even though it’s already February, I’m still happy that I can finally have a real vacation.

I call this ‘a sudden vacation’. Kenapa sudden vacation? Tentu saja karena liburan kali ini gak direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja mbak Nia, kakakku, menelpon dan memintaku bersama Eka, adikku, untuk ke Bekasi saat libur Imlek. So we went to Bekasi at Thursday night and arrived at Bekasi train station at 3 a.m. the next day.

Rencana awalnya nih, kita bertiga mau pergi ke Dufan. Karena hari itu hujan mengguyur kota Bekasi sejak pagi, kami kemudian mengurungkan niat kami untuk ke Dufan. Akhirnya kami bertiga malah ikut pergi ke kondangan sodara di Ciganjur, Jakarta, seharian.

Lalu liburannya? Gagal? Tunggu dulu. Inilah kenapa judul postingan kali ini “A Sudden Vacation in Bandung”. Kami bertiga akhirnya ikut pulang ke rumah Budhe di Bandung, lalu memutuskan pergi ke Trans Studio keesokan paginya.

Paginya, setelah sampai di kawasan TSM, kami langsung menuju ticket box Trans Studio. Karena kami ke sana pada saat weekend, harga tiket masuknya lebih mahal, 250k – seratus ribu lebih mahal daripada tiket weekdays. Tapi gak masalah. Yang penting LIBURAAAAN!!

Wahana pertama yang kami masuki adalah Science Center. Kawasan ini berisi berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, merupakan kawasan bermain dan belajar ilmu sains untuk anak-anak usia sekolah. Di wahana ini aku sempat mencoba tiduran di atas ratusan – mungkin juga ribuan – paku. Rasanya? Agak geli gimana gitu. Tapi percaya deh, gak sakit sama sekali.

Selanjutnya kami masuk ke wahana yang namanya Sky Pirates. Di sana kami naik kapal bajak laut dan berkeliling Trans Studio Bandung menggunakan ‘kapal udara’. Kenapa tulisan kapal udaranya kuberi tanda petik? Simply because it wasn’t a real sky ship. Artinya kita gak bener-bener melayang di udara pakai kapal. Si ‘kapal udara’ ini bergerak mengikuti jalur – semacam rel – yang dipasang hampir mendekati lagit-langit ruangan. Jadinya, kalau dilihat dari bawah – ditambah bagiah atas yang tampak gelap – si ‘kapal laut’ ini terlihat benar-benar melayang/terbang di atas studio.

Setelah dua wahana yang tidak menantang (sama sekali) kami kemudian memutuskan untuk naik wahana paling esktrem di Trans Studio, Yamaha Racing Coaster. Wahana ini (katanya) mampu melesat dengan kecepatan 120 km/jam dalam 3,5 detik dan (konon) hanya tersedia tiga unit di dunia, dua unit lainnya terpasang di Amerika Serikat. Yang membuat wahana ini ekstrem adalah (selain sangat cepat) saat mencapai sudut kemiringan 90 derajat, kereta pun mundur sampai titik start dengan kecepatan yang sama saat maju. Alhasil, dari awal sampai akhir aku gak berhenti teriak. Adrenalin rasanya bener-bener dipacu sampai batas maksimal. And fortunately, I’m still alive!

Masih belum kapok, kami lalu langsung mencoba wahana ektrem lainnya, Vertigo. Walaupun bentuknya seperti kincir angin, Vertigo ini bukan bianglala. Di sini kami diputar-putar, 360 derajat. Dan bukan hanya tiangnya saja yang berputar seperti kincir kebanyakan, bangku-bangku di wahana Vertigo ini juga ikut diputar-putar. Bisa kebayang kan gimana pusingnya. And once again, I’m still in one piece!

Demi kesehatan jantung, marathon permainan ekstrem pun kami hentikan. Setelah Vertigo, kami lalu menonton sebuah (semacam) pertunjukan musikal di Studio Central. Di situ kami bisa nyantai-nyantai sejenak. Dan untungnya lagi kami bisa dapat tempat duduk di depan, jadi kami bisa benar-benar menikmati pertunjukan tanpa terhalang oleh kepala-kepala manusia di depan kami. Yang paling menarik dari pertunjukan ini adalah adegan akrobat dengan menggunakan tali. Mereka bisa berayun sampai jungkir balik hanya dengan berpegangan pada seutas tali. WOW!!

IMG_20140201_235540

Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Setelah pertunjukan selesai kami kemudian mencoba wahana yang (sepertinya) ekstrem, Dunia Lain. Walau suasana (sebenarnya) sudah mendukung dan sempat membuat nyaliku agak ciut di awal, wahana ini tidak berhasil membuat adrenalinku terpacu secara maksimal. Banyak trik-trik di wahana ini yang menurutku fail. Visual pocong yang ditampilkan lewat layar LCD kelihatan banget kalau gak nyata. Tali yang menjadi trek kepala melayang bisa terlihat dengan jelas. Jadi sebelum si kepala muncul, kami sudah bisa memprediksi kemunculannya. Set rumah sakit juga tidak menyeramkan sama sekali. Yang membuatku kaget hanya kemunculan orang yang berpenampilan seperti mumi menjelang finish wahana dari balik pohon. Hanya itu. Itupun karena kemunculannya yang tiba-tiba, bukan penampilannya.

Mungkin nih, kalau menelusuri wahana ini dengan berjalan, bukan naik kereta, suasana seremnya bakal lebih kerasa. Satu lagi, kalau lebih banyak adegan mengagetkan seperti mumi-mumian tadi – seperti cara kerja kebanyakan rumah hantu – mungkin para pengunjung akan lebih bisa dipaksa melakukan sport jantung.

Dari wahana Dunia Lain kami lalu istirahat sebentar; makan, minum, lalu nonton parade maskot di Trans Studio. Yah, lumayan deh buat ngisi tenaga.

Belum kapok dengan wahana ekstrem, kami lalu naik Giant Swing. Bentuknya seperti pendulum super gede. Terus, yang naik wahana ini duduknya diatur melingkar. Setelah itu si Giant Swing ini mulai berayun ke kiri dan ke kanan samapi mencapai ketinggian kira-kira 13 meter. Nggak cuma sampai di situ, tempat duduknya juga berputar. Nah, mungkin karena sudah melakukan marathon permainan ekstrem sebelumnya, kepalaku mulai merasakan pusing. Alhasil, aku nggak berani buka mata selama permainan berlangsung (memalukan).

Wahana terakhir dan yang membuat kami sebel adalah Super Heroes 4D. Di wahana ini pengunjung diajak seolah merasakan langsung bergelut melawan musuh seperti para super heroes. Selama film super heroes tersebut diputar, penonton duduk di moving seat yang sesekali bergerak mengikuti beberapa adegan film. Bahkan saat ada adegan air terciprat, penonton pun juga bisa merasakannya; terkena cipratan air. Lalu, apa yang membuat kami sebel? Antreannya yang supeeeer panjang dan lama. Kami harus rela mengentre selama 1 jam hanya untuk menonton film yang berdurasi 20 menit.

Karena capek ngantre, akhirnya setelah menonton film di Super Heroes 4D kami memutuskan untuk pulang.

Overall, main-main di Trans Studio itu asyik banget. Selain punya banyak wahana yang menarik, Trans Studio yang merupakan indoor theme park punya keunggulan ‘kebal cuaca’. Mau cuaca di luar hujan deras atau super panas, kita tetap bisa bermain sepuasnya di Trans Studio.

Advertisements

Shogun 125, Jalan Jogja-Wonosari, dan Tragedi Sabtu Siang


Sabtu, 12 Oktober kemarin memang sangat istimewa. Selain satu dari teman baikku, Ratna, hari itu diwisuda, Sabtu kemarin mungkin akan menjadi Sabtu yang tidak akan terlupakan — terlebih bagi adikku, Eka.

Jauh-jauh hari, Sabtu tanggal 12 Oktober kemarin memang sudah terjadwal sebagai Sabtu yang sibuk. Pasalnya, selain bekerja, hari itu aku akan menghadiri wisuda salah satu teman baikku. Yang membuatku akan jadi lebih sibuk lagi adalah aku harus cepat-cepat pulang ke Wonosari karena pada pukul 4 sore adikku harus pergi ke pantai Baron bersama tim Bridge-nya untuk latihan. Sebagai “tukang ojek” yang baik tentu saja aku harus mengantarkan adikku ini dengan selamat sampai tujuan.

Siapa sangka, jadwal yang pada awalnya sudah tersusun rapi itu menjadi berantakan. Karena jadwal yang padat dan ketakutanku yang tidak bisa mengantarkan Eka sampai rumah tepat waktu, aku menyuruhnya pulang dulu dengan bus. Waktu itu aku mengira kalau aku akan pulang cukup siang, pukul 2. Dengan begitu, kami (aku dan Eka) pasti akan terburu-buru, karena paling cepat kami akan sampai rumah pukul setengah 4, sedangkan pukul 4 Eka sudah harus berangkat. Ternyata, pukul setengah dua aku sudah sampai di kos dan tidak menjumpai Eka di sana. Setelah ku-SMS, ternyata Eka sudah sampai ringroad Ketandan, sedang menunggu bus jurusan Wonosari. Karena urusanku sudah selesai, maka aku segera menjemput Eka di sana dan berencana pulang ke Wonosari dengan berboncengan saja. Pikirku pasti akan lebih cepat sampai daripada naik bus.
PicMonkey Collage
Benar saja, kira-kira pukul 2 lebih lima belas aku sampai di ringroad Ketandan dan mendapati Eka di sana dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Setelah melihatku, Eka pun bergegas menghampiriku dan memakai jaket serta helmnya. Sangat mengenal caraku dan kecepatanku dalam mengendarai motor, terutama dalam keadaan ramai, Eka memaksa agar aku membonceng saja. Beberapa kali aku menolak, tapi jarum jam terus bergerak, dan jika perdebatan itu terus dilanjutkan, kami akan lebih lama sampai di rumah. Akhirnya aku mengalah. Kubiarkan saja Eka yang mengendarai motor. Bak seorang pembalap, Eka kemudian membelah jalanan Jogja-Wonosari yang siang itu begitu padat.

Karena sudah mengenal cara berkendaranya dengan baik, terlebih saat dia sedang terburu-buru, aku jadi sangat khawatir. Sejak meninggalkan ringroad Ketandan, aku tak henti-hentinya berdoa, minta keselamatan tentunya. Namun Tuhan punya rencana yang berbeda. Saat kami memasuki daerah Piyungan, sebelah timur SPBU, jalanan tampak begitu padat. Di depan kami ada barisan mobil-mobil dan truk yang berjalan lambat karena di bagian paling depan ada sebuah truk besar bermuatan pasir berjalan dengan lambat pula.

Mungkin karena terburu-buru dan tidak mau terjebak kemacetan itu; berjalan di belakang mobil, Eka pun mengambil lajur kiri. Sayangnya, tanah berpasir di pinggir jalan — karena memang di dekat situ ada sungai yang pasirnya sering dikeruk untuk kemudian dijual — ditambah laju motor yang masih lumayan cepat, motor pun kehilangan keseimbangan. Akhirnya, motor oleng ke kiri, Eka jatuh, dan aku pun koprol — literally. Dengkul bonyok dan luka lebam di beberapa bagian tubuh pun menjadi hadiahnya. Thanks to bapak-bapak baik hati, yang belakangan diketahui bernama Pak Haryanto dan rumahnya dekat Pasar Wage, yang mau menolong kami mengantarkan ke Puskesmas Piyungan. Upahmu besar di surga, Pak.

Yah, begitulah. Akhirnya di Puskesmas itu kami mendapatkan pengobatan. Luka di lutut Eka lebih parah daripada punyaku karena dia waktu itu hanya memakai rok, sehingga lututnya langsung “bersentuhan” dengan aspal jalan Jogja-Wonosari yang keras. Sedangkan aku harus merelakan salah satu jeansku karena robek dan harus dipotong untuk memudahkan si dokter mengobati lukaku. Motorku? untungnya si Shogun 125 yang sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak 9 tahun yang lalu itu masih sehat. Hanya saja kaca spion kirinya harus diganti dan lecet-lecet di tubuhnya harus bertambah.

Karena kaki kiri kami berdua luka, tentu saja kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor. Pada kira-kira pukul 5 kami dijemput dan pulang dengan naik mobil. Motorku dibawa oleh ibuku dan sampai rumah dengan selamat — both of them, my mother and the motorcycle.

Saat ini aku sudah bisa berjalan, tapi tangan kananku masih belum bisa digunakan untuk melakukan pekerjaan berat. Sedangkan Eka masih harus bedrest untuk beberapa hari ke depan. Pasalnya, walau sudah bisa dipakai jalan, pergerakan kaki yang terlalu banyak akan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa di lututnya.

Well, kami anggap ini sebagai peringatan dari Tuhan kalau segala sesuatu yang dilakukan dengan buru-buru dan dengan hati dan pikiran yang tidak tenang itu akan membuahkan hasil yang tidak baik. Jadi, jangan dicontoh ya, guys! 😀

Beaches, Here I Come!


 

26

Lebaran, liburan, mudik, jalan-jalan. Rasa-rasanya memang empat kata itu selalu berkaitan. Ketika libur lebaran tiba, semua orang berbondong-bondong mudik — untuk merayakan lebaran bersama keluarga tentunya. Walaupun bukan orang muslim dan tidak secara literal merayakan lebaran, aku pun ikut pulang kampung, ke kota Wonosari tepatnya. Kebetulan, lebaran tahun ini saudara-saudaraku yang dari Bandung dan kakakku yang sudah merantau di Jakarta pun datang. Tentu saja, lebaran kali ini akan menjadi lebaran yang ramai.

Karena momen berkumpul ini jarang didapatkan, keluarga besarku pun berencana untuk liburan bareng. Kebetulan, kampung halamanku ini terkenal dengan wisata alamnya; ada belasan jajaran pantai, gua, sungai, air terjun, dll. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada, kami memutuskan untuk pergi ke pantai. Sepanjang dan Indrayanti pun menjadi pilihan kami.

Seperti musim libur lebaran yang sebelum-sebelumnya, pantai-pantai di Gunungkidul pasti akan ramai pengunjung di hari ke-2 lebaran hingga H+7. Oleh karena itu, kami sekeluarga berangkat agak pagi agar tidak terjebak macet di jalan. Pukul 08.30 setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, dengan menggunakan dua mobil Avanza hitam, kami pun berangkat ke pantai. Seperti yang kami harapkan, jalanan belum macet alias lancar. Sebelum memasuki area pantai kami harus membayar biaya retribusi sebanyak Rp 30.000 per mobil dengan jumlah 6 orang per mobilnya. Destinasi pertama adalah pantai Sepanjang yang terletak di sebelah timur pantai Kukup.

Begitu masuk area pantai, aku terkejut. Pantai Sepanjang yang dulu kukenal sudah banyak berubah. Pertama kali aku kesana, jalan masuk menuju pantai masih sangat terjal dan pantainya pun masih sangat sepi. Saking sepinya, aku sampai merasa berada di pantai pribadi. No parking lot, no vendors, and barely has visitors. Sekarang keadaannya sudah jauh bebeda. Jalan sudah diaspal, tersedia tempat parkir, banyak penjual, bahkan ada penyewaan payung bak pantai-pantai di Bali. Tapi satu yang tidak berubah, pemandangannya. Pasir putih yang terhampar di bibir pantai yang panjang, air lautnya yang biru, anginnya yang dingin, dan kebersihannya pun masih sama.

Walau sudah makin dikenal dan mulai dikelola dengan baik, pamor panti ini masih kalah dengan pantai-pantai yang lainnya, yang memang lebih dahulu dikenal. Jumlah pengunjungnya masih terbilang sedikit jika dibandingkan pantai-pantai lain seperti Baron dan Kukup. Mungkin hal itu juga karena faktor waktu. Kedatangan kami di pantai Sepanjang memang bisa dibilang masih pagi. Jadi wajar kalu belum banyak pengunjung yang datang. Tapi aku malah senang. Pasalnya, aku dan saudara-saudaraku jadi bisa bermain sepuasnya tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain.9

Cukup puas bermain-main di pantai Sepanjang, kami lalu beranjak meinggalkan pantai dan berangkat menuju pantai berikutnya. Karena waktu sudah semakin siang, maka jumlah pengungjung pun makin bertambah. Jalanan yang tadinya lumayan sepi tiba-tiba menjadi ramai ketika kami keluar area pantai dan menuju jalan utama. Just for your information, jalan utama menuju pantai-pantai di selatan Gunungkidul ini tidaklah begitu lebar, jadi jika volume kendaraan; terutama mobil; meningkat, maka akan terjadi kemacetan panjang. Kemacetan ini makin terasa ketika mobil kami sudah mendekati lokasi pantai Indrayanti. Banyaknya mobil yang mencari tempat parkir, ditambah pengungjung yang berlalu-lalang di jalan, membuat semua kendaraan berjalan dengan lambat.

2933

Berbeda dengan pantai Sepanjang, pantai Indrayanti penuh dengan lautan manusia. Karena ramainya, kami sempat mengurungkan niat masuk area pantai. Tapi sepertinya rasa penasaran kami lebih besar, jadi akhirnya kami masuk area pantai juga. Hampir sama dengan pantai Sepanjang, pasir pantai Indrayanti pun putih, garis pantainya pun panjang. Yang membedakannya dengan pantai Sepanjang, dan mungkin pantai-pantai lainnya di Gunungkidul, adalah pengelolaannya. Menejemen pengelolaan yang sangat baik membuat pantai ini berkembang dengan pesat. Dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Gunungkidul, pantai ini bisa disebut memiliki level yang paling tinggi, bintang 4 – alias menyamai pantai-pantai yang ada di bali. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengelolaan yang ditangani oleh pihak swasta.

Alhasil, karena penuh dengan manusia, kami jadi tidak bisa benar-benar menikmati bermain di pantai Indrayanti. Setelah kira-kira satu jam, kami akhirnya beranjak pulang. Karena jalanan macet, kami pun pulang menggunakan jalur alternatif dan sampai di rumah pada pukul 14.00 siang. Walalupun capek, we enjoy it anyway.

Kue Sisa


kue

Minggu pagi, seperti biasa aku dan adikku pergi ke gereja mengikuti misa pagi. Seperti biasa pula, karena bangun kesiangan aku berangkat dengan terburu-buru. Untung saja, ketika aku sampai di gereja misanya belum dimulai. Namun rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba datang menyerang. Gara-gara itu aku tidak bisa konsentrasi di dalam gereja. Rasanya ingin cepat-cepat pulang dan melanjutkan tidur di rumah.

Tahapan demi tahapan prosesi misa dilakukan, namun rasa kantukku makin hebat saja. Hingga tiba pada saat homili. “Bakal tambah ngantuk nih,” pikirku. Romo kemudian mengawali homilinya dengan sebuah cerita. Cerita seorang ibu yang selalu membawakan roti sisa untuk anaknya sepulang dari mengikuti rapat di gereja. Tentu saja anak tersebut merasa sangat senang tiap kali ibunya pulang dengan membawa roti sisa rapat.

Sampai suatu ketika si anak mengikuti ibunya ke gereja. Dia bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh di halaman gereja dan memperhatikan ibunya yang sedang rapat di dalam gedung gereja. Dia terus menunggu sampai pada saatnya untuk makan snack. Semua ibu-ibu yang berada dalam gedung itu bangkit berdiri dan mengambil masing-masing sebuah roti. “Ibu pasti membawa roti sisa nanti ketika pulang,” pikir si anak sambil tersenyum. Namun yang dilihatnya adalah si ibu mengambil sebuah roti, membungkusnya rapi dengan selembar kertas dan memasukkannya ke dalam tas. Sekarang si anak tahu kalau roti yang dia makan tipa pagi itu bukanlah roti sisa, melainkan roti yang sengaja disisihkan untuknya oleh ibunya.

Si anak menjadi gelisah dan bingung. Apa yang harus dia katakan pada ibunya keesokan harinya ketika sebuah roti sudah tersaji dalam piringnya. Dia merasa bersalah karena selalu mengira bahwa roti yang dia makan adalah roti sisa. Akhirnya, si anak itu tetap memakan roti yang dibawakan oleh ibunya namun dengan perasaan yang berbeda; bukan sebagai roti sisa, tapi sebagai roti yang penuh dengan kasih sayang ibunya.

Mendengar cerita tadi, rasa kantukku jadi hilang. Aku jadi berkaca pada kehidupanku sendiri; bagaimana orang tuaku telah memberikan kasih sayang yang begitu melimpah. Begitu juga dengan Yesus. Dia sangat sayang padaku, pada manusia, hingga rela mengorbankan diri demi penebusan dosa manusia; suatu bentuk kasih yang luar biasa. Oleh karena itu, seperti halnya Yesus marilah kita menyebarkan kasih pada sesama manusia. GBU Smile