A Confession: Insta-Obsession


I love Instagram! Even long before I have my first smartphone!

I always love seeing pictures that capture beautiful, meaningful, things. And it’s my dream to be able to capture those kind of pictures myself and put it on instagram.

Taking photos actually has been my obsession since a long time ago. I don’t have any digital camera or even SLR. What I did was borrowing my friends’ phone and taking photos using them. You know, my phone didn’t have camera feature. It’s an old fashioned phone—I admit it. So, ever since I had my first smartphone—like a year ago—I find myself taking more and more photos.

Like any other newbie, I just took ‘any’ photos—random photos. I didn’t know how to find appropriate angle or lighting. I depended more on the effects/filters in photo editing app.

As time goes by, I kinda start to find my own ‘style’. You know, I find many great, fantastic, fabulous photos just by exploring instagram. Some of them even taken only by phones. It somehow encourages me to ‘produce’ the same photos.

I love photos taken by A Beautiful Mess. They often share simple yet meaningful photos. In my opinion, they can make everyday activities look special through lifestyle photography.

Bit by bit I learn how to get good photos—find the right angle, lighting, etc. And now, as I scroll down my istagram feed, I can see the changes I made through this year.

Advertisements

How to Make a Perfect Circular Picture Without Using Software


Belakangan ini ada tren baru di kalangan pengguna sosmed. Avatar yang mereka gunakan, kebanyakan, bukan lagi persegi tapi lingkaran. Sempet penasaran sih gimana cara buatnya karena menurutku cilcular avatar isn’t mainstream (hehe). Beberapa kali sempat nyoba bikin pakai CorelDraw dan Photoshop. Berhasil sih, tapi agak ribet.

Nah, ternyata, ada lho cara gampang bikin circular ava. Forget CorelDraw, forget Photoshop! We don’t need any special software! All we need is Picmonkey, girls!

  • Go to www.picmonkey.com. Click edit and select the picture you want to use. Kali ini aku meminjam foto dari kover posternya Sherina (hehe).
  • Crop fotomu. Pastikan kalau fotomu berbentuk persegi. Untuk memastikannya, kamu bisa cek di menu actual size.

2

  • Go to frame menu. Pilih “rounded corners”. Drag opsi “corner radius” sampai habis. Kalau ingin mengubah warna background fotomu, kamu bisa mengaturnya di background color. Kali ini aku memilih opsi “transparent corners” sehingga hasilnya seperti di bawah ini.

3

  • Setelah selesai dan yakin dengan hasil akhir editanmu, simpan fotomu. Kamu bisa menyimpan fotomu dengan format .png dan .jpeg.

4

  • Voila, inilah hasil akhirnya!

Sherina - Tuna

It’s super easy, isn’t it? Semoga postingan kali ini bisa berguna buat kalian semua. Selamat mencoba!

Mengajar & Belajar di Sekar Kedhaton


Belum lama ini aku dan beberapa temanku baru saja menyelesaikan sebuah proyek mengajar di salah satu restoran di Yogyakarata, tepatnya di Sekar Kedhaton. Sekar Kedhaton ini adalah sebuah restoran yang mengusung nilai budaya Jawa, baik dalam makanan ataupun arsitektur bangunannya.

1

Antik dan menarik. Itu kesan pertama yang kudapat saat memasuki restoran tersebut. Antik, karena bangunan yang dipakai adalah bangunan kuno yang arsitekturnya merupakan perpaduan antara budaya Jawa, China, dan Belanda. Unsur Jawanya diperlihatkan dari ukiran-ukiran di tiang-tiangnya yang berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan, foto-foto dokumentasi keraton yang merupakan koleksi pribadi kepunyaan si pemilik restoran, serta beberapa perabotan yang bernuansa Jawa.

Seperti kebanyakan bangunan peninggalan Belanda, restoran ini mempunyai tembok yang tebal. Tiang-tiangnya pun tinggi dan besar. Unsur China-nya? Well, aku tidak terlalu memperhatikan bagian mana yang memperlihatkan unsur tersebut. Yang pasti salah satu dari waitress di sanalah yang menceritakannya padaku.

Menjadi menarik pula ketika aku mengetahui kalau cara memesan dan menyajikan makanan di restoran tersebut mengadaptasi cara Barat. Ada starter, main course, and dessert. Sedangkan menu yang ditawarkan adalah menu Jawa. Hmm, menarik bukan. Sebuah perpaduan yang menarik antara unsur tradisonal dan modern.

10

Seperti yang sudah kujelaskan di awal tadi, alasan utamaku berada di Sekar Kedhaton adalah untuk mengajar. Di sana, aku dan beberapa temanku mengajarkan Bahasa Inggris bagi para waitress yang bekerja di sana.  Awalnya agak dag-dig-dug juga, karena itu adalah kali pertama aku mengajar waitress. Tapi ternyata setelah dijalani malah menjadi ketagihan. Pasalnya para peserta pelatihan selalu antusias saat belajar dan senang jika mendapatkan pengetahuan yang baru. Aku pun juga merasa senang, sekaligus tertantang. Tertantang karena aku harus mampu memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selain mengajar, aku juga – secara tidak langsung – belajar di sana. Yang paling utama sih belajar tentang makanan. Bukan mencicipi makanan tentunya, walaupun pernah, tapi belajar tentang istilah-istilah yang berkaitan tentang makanan dan restoran. Apalagi Sekar Kedhaton adalah restoran yang menawarkan makanan khas Jawa. Banyak nama bahan-bahan yang jarang kudengar dan harus kucari nama dalam bahasa Inggrisnya. Kalau tidak ada, ya berarti aku harus memberikan deskripsi yang tepat – dan tentu saja dalam bahasa Inggris.

14082012219_Amber_Vignette

Ngomong-ngomong soal makanan, aku dan teman-temanku yang ikut mengajar di Sekar Kedhaton juga pernah ikut merasakan beberapa menu makanan dan minuman di sana. Untuk rasa sih menurutku standar. Bagi beberapa orang, yang biasa makan makanan khas Jawa – Jogja terutama,  mungkin ada makanan yang terasa kurang bumbu. Aku sebenarnya tidak pernah bertanya langsung pada pihak restoran, tapi menurut analisisku sendiri hal itu mungkin dikarenakan penyesuaian dengan lidah turis asing. Just for your information, mayoritas tamu yang datang dan makan di Sekar Kedhaton adalah tamu asing, a.k.a dari luar negeri. Lidah mereka tidak terbiasa dengan makanan yang banyak bumbunya seperti di Indonesia, terutama pedas.

Masalah harga? Jangan tanya deh. Kalangan menengah seperti aku ini pasti berpikir (lebih dari) dua kali kalau mau makan di sana. Ingat, mayoritas pengunjung restoran ini adalah bule dan tentu saja bukan bule kere lho. Oleh karena itu wajar kalau, ehem, harganya pun menyesuaikan kantong mereka – alias mahal.

7_Julia_Rainbow

Nah, yang paling membekas dan membuat kami kangen dengan Sekar Kedhaton, selain suasananya tentu saja, adalah Gulas Squash – minuman khas Sekar Kedhaton yang terbuat dari asam Jawa, gula Jawa, dan campuran soda. Rasanya? Delicious. Pokoknya harus minum Gulas Squash kalau berkunjung ke Sekar Kedhaton. Dijamin tidak akan mengecewakan.

Well, mengajar di Sekar Kedhaton merupakan pengalaman yang tidak terupakan. Begitu juga dengan pengalaman makan-makannya.

Beaches, Here I Come!


 

26

Lebaran, liburan, mudik, jalan-jalan. Rasa-rasanya memang empat kata itu selalu berkaitan. Ketika libur lebaran tiba, semua orang berbondong-bondong mudik — untuk merayakan lebaran bersama keluarga tentunya. Walaupun bukan orang muslim dan tidak secara literal merayakan lebaran, aku pun ikut pulang kampung, ke kota Wonosari tepatnya. Kebetulan, lebaran tahun ini saudara-saudaraku yang dari Bandung dan kakakku yang sudah merantau di Jakarta pun datang. Tentu saja, lebaran kali ini akan menjadi lebaran yang ramai.

Karena momen berkumpul ini jarang didapatkan, keluarga besarku pun berencana untuk liburan bareng. Kebetulan, kampung halamanku ini terkenal dengan wisata alamnya; ada belasan jajaran pantai, gua, sungai, air terjun, dll. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada, kami memutuskan untuk pergi ke pantai. Sepanjang dan Indrayanti pun menjadi pilihan kami.

Seperti musim libur lebaran yang sebelum-sebelumnya, pantai-pantai di Gunungkidul pasti akan ramai pengunjung di hari ke-2 lebaran hingga H+7. Oleh karena itu, kami sekeluarga berangkat agak pagi agar tidak terjebak macet di jalan. Pukul 08.30 setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, dengan menggunakan dua mobil Avanza hitam, kami pun berangkat ke pantai. Seperti yang kami harapkan, jalanan belum macet alias lancar. Sebelum memasuki area pantai kami harus membayar biaya retribusi sebanyak Rp 30.000 per mobil dengan jumlah 6 orang per mobilnya. Destinasi pertama adalah pantai Sepanjang yang terletak di sebelah timur pantai Kukup.

Begitu masuk area pantai, aku terkejut. Pantai Sepanjang yang dulu kukenal sudah banyak berubah. Pertama kali aku kesana, jalan masuk menuju pantai masih sangat terjal dan pantainya pun masih sangat sepi. Saking sepinya, aku sampai merasa berada di pantai pribadi. No parking lot, no vendors, and barely has visitors. Sekarang keadaannya sudah jauh bebeda. Jalan sudah diaspal, tersedia tempat parkir, banyak penjual, bahkan ada penyewaan payung bak pantai-pantai di Bali. Tapi satu yang tidak berubah, pemandangannya. Pasir putih yang terhampar di bibir pantai yang panjang, air lautnya yang biru, anginnya yang dingin, dan kebersihannya pun masih sama.

Walau sudah makin dikenal dan mulai dikelola dengan baik, pamor panti ini masih kalah dengan pantai-pantai yang lainnya, yang memang lebih dahulu dikenal. Jumlah pengunjungnya masih terbilang sedikit jika dibandingkan pantai-pantai lain seperti Baron dan Kukup. Mungkin hal itu juga karena faktor waktu. Kedatangan kami di pantai Sepanjang memang bisa dibilang masih pagi. Jadi wajar kalu belum banyak pengunjung yang datang. Tapi aku malah senang. Pasalnya, aku dan saudara-saudaraku jadi bisa bermain sepuasnya tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain.9

Cukup puas bermain-main di pantai Sepanjang, kami lalu beranjak meinggalkan pantai dan berangkat menuju pantai berikutnya. Karena waktu sudah semakin siang, maka jumlah pengungjung pun makin bertambah. Jalanan yang tadinya lumayan sepi tiba-tiba menjadi ramai ketika kami keluar area pantai dan menuju jalan utama. Just for your information, jalan utama menuju pantai-pantai di selatan Gunungkidul ini tidaklah begitu lebar, jadi jika volume kendaraan; terutama mobil; meningkat, maka akan terjadi kemacetan panjang. Kemacetan ini makin terasa ketika mobil kami sudah mendekati lokasi pantai Indrayanti. Banyaknya mobil yang mencari tempat parkir, ditambah pengungjung yang berlalu-lalang di jalan, membuat semua kendaraan berjalan dengan lambat.

2933

Berbeda dengan pantai Sepanjang, pantai Indrayanti penuh dengan lautan manusia. Karena ramainya, kami sempat mengurungkan niat masuk area pantai. Tapi sepertinya rasa penasaran kami lebih besar, jadi akhirnya kami masuk area pantai juga. Hampir sama dengan pantai Sepanjang, pasir pantai Indrayanti pun putih, garis pantainya pun panjang. Yang membedakannya dengan pantai Sepanjang, dan mungkin pantai-pantai lainnya di Gunungkidul, adalah pengelolaannya. Menejemen pengelolaan yang sangat baik membuat pantai ini berkembang dengan pesat. Dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Gunungkidul, pantai ini bisa disebut memiliki level yang paling tinggi, bintang 4 – alias menyamai pantai-pantai yang ada di bali. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengelolaan yang ditangani oleh pihak swasta.

Alhasil, karena penuh dengan manusia, kami jadi tidak bisa benar-benar menikmati bermain di pantai Indrayanti. Setelah kira-kira satu jam, kami akhirnya beranjak pulang. Karena jalanan macet, kami pun pulang menggunakan jalur alternatif dan sampai di rumah pada pukul 14.00 siang. Walalupun capek, we enjoy it anyway.

The Uniqueness Of SPD


SPD or Service Program Design is one of many compulsory subjects offered in my faculty. This subject is for the last semester students – semester 7 and 8. There are many stories and gossips about this subjects. And the bad thing is that they aren’t good one. One of the many stories spread is about ‘”yawning”. We, as the students, are not allowed to yawn in the class. Otherwise, she will make us do push up ( for men) or scot jump (for women). Therefore, some seniors even called it as  “hell level 10”. 

The lecturer is very strict. She likes to to give us – her students – problems. And it’s true. I take the subject this semester and I did saw the fact about the gossips.

The first task I got from the lecturer was to make an artwork based on our motto of life. My friends and I spent the whole week just to make it. Why? Because we don’t want to be chosen as “the worst”. If we do become “the worst” then we have to make another one and bring it in the following week.

I don’t know what problems my lecturer will give to me next week. Whatever it would be, I hope I can find the way to solve it. Winking smile 

These are the pictures of our artworks.

 

vito's artwork

Be like water


nora's artwork

Success is like step on ladder


ika's artwork

Live with totality


lia's artwork

Don’t wait until tomorrow


ratna's artwork

We’re free to go where we wish and to be what we are


tania's artwork

Life’s never flat