#TurLandmark: Belajar Sejarah dari Vredeburg dan Keraton


 

2016-02-13 08.44.27 1.jpg

Untuk bisa menikmati liburan itu sebenarnya nggak perlu waktu yang lama kok. Kadang, sehari pun cukup untuk bisa me-refresh pikiran dan badan kita. Caranya yaitu dengan memilih destinasi wisata yang jaraknya berdekatan.

Beberapa waktu yang lalu saya menghabiskan weekend dengan tur landmark. Di Jogja, sebenarnya ada banyak landmark yang patut dikunjungi. Ada Malioboro, Keraton, Tugu, Candi Prambanan, Candi Boko, dan banyak lagi.

Kali ini saya memilih untuk mengunjungi Benteng Vredeburg dan Keraton. Dua tempat ini dipilih, karena selain letaknya yang berdekatan, waktu yang tersedia hanya satu hari – tidak akan cukup untuk mengunjungi semua landmark di Jogja.

Destinasi 1: Benteng Vredeburg

PhotoGrid_1455372885695[1]

Benteng Vredeburg ini terletak di kawasan Malioboro, tepatnya di bagian selatan. Benteng yang sekarang berfungsi sebagai museum ini beroperasi dari hari Selasa-Minggu. Tiket untuk orang dewasa hanya Rp 2000 dan Rp 1000 unruk anak-anak dan pelajar. Museum ini juga menyediakan pemandu bagi yang menginginkan, plus free charge. Pihak museum tidak menarik biaya untuk jasa pemandu. Tapi kalau nggak tega, ya, kalian bisa memberikan fee seikhlasnya.

Berdiri kokoh di seberang Gedung Agung, Benteng Vredeburg ini dibangun pada tahun 1755. Pada awal pembangunannya, bentuk bangunan Vredeburg sangat sederhana. Waktu itu, benteng ini digunankan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memantau kondisi Keraton. Selanjutnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di pemerintahan Belanda, benteng ini pun diperbaiki dan diberi nama Rustenberg.

Processed with VSCO with f2 preset

Bentuk bangunan, nama, dan fungsinya pun berganti-ganti seiring dengan pergantian kekuasaan di Yogyakarta. Dari yang bernama Rustenberg, benteng ini berubah nama menjadi Vredeburg setelah terjadi gempa besar di Jogja pada tahun 1867 dan dilakukan pemugaran. Saat ini, Vredeburg digunakan sebagai museum yang menyimpan berbagai benda peninggalan jaman perang. Selain itu, di sini juga terdapat diorama yang menceritakan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Processed with VSCO with f2 preset

 

Isi dan penataan museum sekarang ini sudah jauh lebih menaraik daripada dulu. Kesan seram dan membosankan yang biasanya melekat pada museum tidak terasa di sini. Begitu masuk gedung, saya langsung mendapati layar interaktif yang berisi keterangan benda-benda peninggalan sejarah. Ada juga area bermain untuk anak-anak. Ada beberapa jenis permainan yang tentu saja, selain menyenangkan juga bisa menambah pengetahuan anak-anak tentang sejarah.

Destinasi 2: Keraton

2016-02-13 08.51.42 1.jpg

Keraton terletak tidak jauh dari Benteng Vredeburg. Sebenarnya, berjalan kaki pun sampai, tapi saya memutuskan untuk naik motor saja karena matahari begitu terik waktu itu. Walaupun kalau ditarik garis lurus, Vredeburg dan Keraton itu sangat dekat, namun saya harus mengambil jalan memutar karena sedang ada pengerjaan jalan waktu itu.

Pertama kali masuk kompleks Keraton, kesan yang saya dapatkan adalah ‘sayang’ – sayang bangunan semegah itu tidak dirawat dengan baik. Di bagian museum, benda-benda yang dipamerkan di sana terkesan berdebu. Bahkan, kadang saya merasa sedikit merinding ketika akan masuk ruangan – agak spooky memang. Padahal, ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini, sejarah dan budaya kota Yogyakarta.

Processed with VSCO with x1 preset

Saat itu saya langsung teringat kata-kata seseorang – yang lupa entah siapa – mengapa Istana Buckingham di Inggris atau Versailles di Prancis jauh lebih menarik dari Keraton Yogyakarta? Bukan, bukan semata-mata karena mereka beerada di luar negeri. Bukan karena keduanya lebih besar. Jawabannya lebih pada perawatan.

Coba saja kalau pemrintah daerah dan pihak Keraton mengalokasikan sedikit lebih banyak dananya untuk perawatan Keraton. Saya yakin wajah Keraton akan terlihat lebih menarik, lebih bersih, lebih sejuk. Kalau sudah lebih cantik, saya juga yakin, pasti akan lebih banyak orang yang mau mengunjungi Keraton.

Processed with VSCO with f2 preset

Overall, waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi dua tempat itu hanya setengah hari. Namun saya memutuskan untuk menyudahi penelusuran saya di Keraton dan pulang. Biaya yang saya habiskan selama satu hari itu kurang lebih sebagai berikut.

Tiket Benteng Vredeburg                             : Rp 2000

Parkir motor Benteng Vredeburg             : Rp 2000

Tiket Keraton                                                     : Rp 5000

Total                                                                      : Rp 9000

Murah, bukan? By the way, itu belum termasuk uang bensin dan makan, ya. So, bagi kalian yang ingin berwisata tapi nggak punya waktu banyak, Benteng Vredeburg dan Keraton bisa jadi alternatif destinasi wisata kalian.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s