Menikmati Pagi dari 700 mdpl, Gunung Api Purba Nglanggeran


“Thousands of tired, nerve-shaken, over-civilized people are beginning to find out that going to the mountains is going home; that wildness is a necessity”

John Muir, Our National Parks

IMG_20150523_150649[1]

Aku nggak biasanya bangun pagi. Tapi hari itu, bahkan sebelum alarm HP-ku berbunyi, which is set to 5 a.m., aku udah bangun. Bukan…bukan karena sahur. Pagi itu aku dan adikku berencana melihat sunrise dari puncak gunung api purba Nglanggeran. Tidak perlu mandi. Cuci muka dan sikat gigi saja cudah cukup. Jam menunjukkan pukul 5. Ah, sudah kesiangan. Buru-buru kuambil kunci motor and vroom…off we go.

Butuh + 45 menit untuk sampai di Langgeran dari Jogja. Waktu yang cukup singkat, mengingat itu masih sangat pagi, belum banyak kendaraan yang lalu-lalang. Namun sepertinya kami sudah tidak bisa melihat sunrise. Pukul 6 kami sampai di area parkir dan sepertinya matahari sudah naik. Setelah memarkir motor, kami lalu membeli tiket masuk seharga Rp 5.000. Tiket di tangan dan pendakian pun dimulai.

IMG_20150526_094936[1]

Sebenarnya aku ini bukanlah termasuk anak pecinta alam yang sudah mendaki banyak gunung. Dibanding adikku yang sudah pernah mendaki Prau dan Merbabu, tentu pengalamanku yang baru pernah naik Bukit Sikunir dan Gunung Gambar ini tentu tidak ada apa-apanya. Aku bukan juga tipe orang yang rajin olahraga. Jadi jelas, belum sampai setengah perjalanan aku sudah terengah-engah—what a shame!. However, surrender isn’t in my dictionary. Walau mesti berhenti berkali-kali, pendakian tetap berlanjut.

2015-06-23%2006.43.13%201[1]

Setengah jam kemudian kami sampai di puncak. What a relieve! Perjuanganku ternyata nggak sia-sia. Tidak mendapatkan sunrise pun tidak masalah. Pemandangan yang kami dapatkan dari atas gunung sungguh luar biasa; embung Nglanggeran yang biru, pohon-pohon hijau, sampai tower-tower provider yang berdiri kokoh di antara hamparan sawah yang hijau.

2015-05-23%2012.39.47%201[1]

2015-05-23%2012.39.52%201[1]

Untuk waktu yang cukup lama kami hanya duduk diam, menikmati pagi dari puncak tertinggi Gunnungkidul. Menikmati suara kicauan burung, semilir angin gunung, sinar matahari pagi hingga kabut pagi yang menyelimuti bumi pagi itu mulai menghilang digantikan hijaunya hutan yang disembunyikannya.

IMG_20150523_125345[1]

Hari makin siang, matahari makin terik, dan suasana makin ramai—sudah makin banyak pengunjung. Perut kami pun sudah lapar. Tandanya kami harus segera turun.

Dibandingkan saat mendaki, waktu yang dibutukan untuk turun jauh lebih cepat. Namun, karena tidak terbiasa dengan kegiatan fisik yang berat, acara turun gunung harus disertai kaki yang tremor—maklum, pendaki amatir. Sekitar pukul 9 kami sampai di area parkir dan langsung memutuskan untuk pulang.

Overall, pendakian ke Nglanggeran kemarin cukup melelahkan tapi juga menyenangkan. Recommended deh buat kamu-kamu yang suka nature dan baru belajar naik gunung. Dijamin nagih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s