(Literally) Being Lost in The Middle of Nowhere


Kemarin ini aku baru aja ngalamin kejadian yang cukup mendebarkan — and a little bit creepy. Jadi, seperti biasanya, weekend kemarin aku pulang ke Wonosari. Tidak seperti biasanya, hari Minggu-nya kami sekeluarga pergi ke gua Maria Tritis untuk mengikuti misa penutupan novena tahun ke-3 di sana (I’ll tell the detail later, in the next post).dark road

Karena kondisi geografisnya yang cukup menantang – naik bukit – ziarah ke gua Maria Tritis itu cukup menguras tenaga. Alhasil, sampai rumah, kami sekeluarga tepar. Aku juga sama. Renacana pulang ke Jogja sore pun batal. Aku dan adikku akhirnya berangkat dari rumah kira-kira jam 7 malam.

Nah, kejadian mendebarkan dan agak menakutkan itu baru akan dimulai dari sini. Karena jalan utama yang menghubuungkan Jogja-Wonosari sedang diperbaiki, aku memutuskan untuk lewat jalan alternatif. I chose to drive through Playen instead of Gading (those who often go to Wonosari should’ve known about this). Kalau lewat jalan itu, kita bisa menghindari macet dan langsung motong jalan ke pertigaan Gading. Tapi, di sinilah masalahnya – aku nggak terlalu kenal daerahnya. Aku baru beberapa kali lewat jalan itu – and I wasn’t really paying attention to the navigation nor the road signs.

Akhirnya, karena nggak terlalu kenal daerahnya, plus (mungkin) kurang konsentrasi, kondisi jalan yang gelap dan nggak perhatiin petunjuk jalan, aku salah ambil jalan. Awalnya nggak ‘ngeh’  sih kalo udah salah jalan, jadi lempeng aja gitu jalan terus. Lama-lama, setelah rumah-rumah dan lampu penerangan di kanan-kiri jalan mulai jarang, aku mulai curiga jangan-jangan aku salah jalan. Tapi, entah kenapa aku masih aja jalan terus. Lama-lama, setelah benar-benar nggak ada rumah-rumah dan lampu jalan di kanan-kiri jalan, aku baru yakin kalau aku salah jalan.

Waktu itu, jalanan sepi banget. Cuma ada aku, adikku, dan motorku di jalan itu. Nggak ada lampu jalan. Satu-satunya penerangan yang ada berasal dari lampu motorku dan cahaya bulan yang malu-malu muncul malam itu. Di kanan dan kiri jalan cuma ada deretan pohon-pohon. Sepertinya sih kami udah masuk kawasan hutan Wanagama, hii. Jadi, bisa ngebayangin dong kengerian yang waktu itu menyerang kami berdua. Untung waktu itu aku berdua sama adikku, kalau cuma sendirian, aku nggak tau deh gimana jadinya. I, then, slowed down my motorbike speed, looked around the area, and finally decided to turn around.

Di sepanjang jalan aku dan adikku nggak henti-hentinya berdoa karena jujur aku takut banget waktu itu. Bukan takut bakal ketemu hantu atau sejenisnya, tapi takut aja kalau kami bener-bener tersesat dan nggak nemuin satu orang pun yang bisa ditanyain. Apalagi kami cewek semua. Duh, bener-bener campur aduk deh perasaanku waktu itu.

But, finally, with God’s guidance, we’re back to the right track. Fyuh, lega banget. Kami lalu melanjutkan perjalanan dan sampai di Jogja jam 8.30 malam, setengah jam lebih lama. Gara-gara itu aku jadi nggak berani lagi coba-coba lewat jalan yang belum benar-benar kukenal, tanpa petunjuk, sendirian, dan malam-malam. Jadi, pelajaran yang bisa kuambil dari pengalaman ini adalah kalau mau coba rute baru, mending pagi atau siang hari deh, terang. Petunjuk-petunjuk jalan pun kelihatan dengan jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s