Dragon Zakura: Ketika Universitas Menjadi Tolok Ukur Kesuksesan


Setelah G.T.O dan Gokusen, ada satu lagi nih drama Jepang yang bertemakan pendidikan, Dragon Zakura. Secara umum, drama ini menceritakan bagaimana satu orang – bertindak sebagai guru – mengubah sekelompok siswa bermasalah menjadi siswa yang memiliki prestasi. Dan seperti halnya G.T.O dan Gokusen, Dragon Zakura ini juga diangkat dari sebuah manga dengan judul yang sama yang dimuat di Shuukan Morning (Kodansha). Sebenarnya drama ini termasuk drama yang tahun rilisnya sudah lama, 2005, tapi ceritanya masih relevan samapai sekarang. Menurut beberapa ulasan, drama ini mendapatkan rating yang lumayan tinggi. Bahkan IMBd memberikan angka 7,1/10, nilai yang cukup tinggi kurasa.

JM127

Cerita ini diawali dengan ditunjuknya Sakuragi Kenji (Hiroshi Abe) sebagai pengacara yang mengurusi penutupan SMA Ryuzan yang mengalami masalah finansial alias nyaris bangkrut. Didorong oleh ambisi pribadi, Kenji akhirnya membuat pengumuman di depan pada penyumbang dana bahwa dia berhasil membuat 5 siswa Ryuzan masuk Universitas Tokyo, maka para penyumbang dana harus mau jadi donatur Ryuzan. Dengan begitu, Ryuzan tidak akan ditutup dan Kenji akan mendapatkan pujian karena keberhasilannya membantu masalah finansial Ryuzan serta membuat popularitas Ryuzan naik – karena siswanya berhasil masuk Universitas Tokyo.

Dan kemudian masalah dimulai. Pertama-tama Kenji harus mendapatkan 5 siswa yang mau masuk kelas khususnya, kelas persiapan masuk Universitas Tokyo. Karena Ryuzan merupakan sekolah yang berisi siswa-siswa bermasalah dan pemalas, tentu saja mendapatkan satu siswa yang mau masuk kelas khusus ini pasti sangat sulit. Para guru Ryuzan pun pesimis mengenai rencana Kenji ini. Jadi tidak heran kalau Kenji sama sekali tidak punya sekutu di Ryuzan. Pada akhirnya hanya Mamako Ino-lah (Hasegawa Kyoko), guru bahasa Inggris Ryuzan, yang bersedia membantu Kenji sebagai asisten.

Oke, singkat cerita akhirnya ada juga yang mau ikut kelas khususnya Kenji. Awalnya hanya ada 4, Yajima Yusuke (Yamashita Tomohisa), Ogata Hideki (Koike Teppei), Kosaka Yoshino (Aragaki Yui), dan Kobayashi Maki (Saeko). Mizuno Naomi (Nagasawa Naomi) dan Okuno Ichiro (Nakao Akiyoshi) adalah dua siswa Ryuzan yang ikut kelas khusus ini setelahnya. As you can count, pada akhirnya ada 6 siswa yang ikut kelas khusus.

Tiap-tiap siswa tersebut memiliki karakter, latar belakang keluarga, serta motivasi ikut kelas khusus yang berbeda-beda. Jelas, cara mengajar yang biasa tidak akan mampu meng-upgrade otak 6 siswa tersebut. Sebagai orang yang pernah mengalami masa muda yang serupa, Kenji pun tidak kehilangan akal, dari mulai mengintegrasikan olahraga dan konsep mengingat sampai mendatangkan para pengajar ahli (Matematika, Sains, Bahasa Jepang, dan Bahasa Inggris) yang unik dan antik dalam mengajar. Intinya, metode pengajaran yang diterapkan di kelas khusus ini sangat tidak biasa.

Ditinjau dari sudut pandang pendidikan, tentu saja metode-metode pengajaran yang ditampilkan di drama ini sangat menarik. Beberapa sangat bisa diaplikasikan dalam sistem pendidikan Indonesia, seperti mind-mapping, penjelasan dengan gambar, atau juga mengajar Bahasa Inggris lewat lagu. Yang paling menarik buatku adalah ketika Ryūzaburō Akutayama, guru bahasa Jepang kelas khusus, mengajarkan sejarah Jepang dengan menggunakan manga. Ryūzaburō Akutayama mencoba mengubah deskripsi sejarah Jepang pada buku pelajaran pada umumnya yang membosankan menjadi lebih menarik, yaitu lewat gambar dan sudut pandang cerita yang lebih populer di kalangan anak muda – tentu saja tanpa mengubah fakta dan garis besar cerita. Mungkin rasanya hampir sama saat aku membaca komik Shanaou Yoshitsune. Secara nggak sadar, melalui komik tersebut, aku jadi belajar tentang sejarah Genpei war serta peran Shanaou Yoshitsune di dalamnya. Aku jadi membayangkan diriku kembali ke masa-masa SMA dan belajar sejarah Indonesia dari komik. Hmm, sangat menarik.

Selain tentang metode mengajar, yang coba diangkat di drama ini adalah betapa masuk Universitas Tokyo itu adalah impian banyak orang Jepang. Jawabannya simpel, karena Universitas Tokyo adalah universitas terbaik di Jepang. Asumsi mereka, karena Universitas Tokyo adalah universitas terbaik, maka masuk Universitas Tokyo pastilah sangat sulit. Sehingga muncul anggapan bahwa siapapun yang berhasil lolos seleksi masuk Universitas Tokyo adalah orang pintar.

Asumsi yang tersebar di masyarakat Jepang kemudian adalah dengan memegang ijazah dari Universitas Tokyo, seseorang pasti mampu mendapatkan pekerjaan yang bagus dan masa depan yang cerah. Punya istri cantik atau suami tampan walaupun wajahmu pas-pasan pun bisa, asal namamu tedaftar sebagai alumnus Univesitas Tokyo. Seringkali orang tidak mau ambil pusing untuk mengetahui seberapa bagus nilamu dan prestasimu di sana, yang penting kamu berhasil lulus dari Universitas Tokyo. In summary, kalau mau mengubah hidup menjadi lebih baik, Universitas Tokyo adalah jawabannya.

Kondisi seperti di atas dijelaskan secara gamblang oleh tiga pemain pendukung dalam drama ini, Nozomi Yamamoto, teman Mamako Ino, dan dua laki-laki yang sedang dekat dengannya. Kedua laki-laki itu adalah Yoshio Tanaka dan Yasushi Sawamatsu. Yoshio Tanaka, sarjana hukum dari Uversitas Tokyo, sombong dan sangat percaya diri meskipun wajahnya tidak tampan dan kepribadiannya kurang menarik. Yasushi Sawamatsu merupakan kebalikan dari Yoshio Tanaka. Pendidikannya hanya sampai SMA – tidak lulus karena di-DO – dan hanya seorang pekerja paruh waktu. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bermain Pachinko. Wajahnya tampan dan bentuk tubuhnya cukup proporsional untuk ukuran pria, namun otaknya yang minimalis membuatnya sering gagal dalam mendapatkan pekerjaan atau pacar.

Walaupun sering merasa tidak yakin, antara memilih Tanaka atau Sawamatsu, pada akhirnya Nozomi Yamamoto menjatuhkan pilihannya pada Tanaka. Simply because he’s graduated from Tokyo University.

Fenomena seperti ini juga banyak kita jumpai di Indonesia. Orang akan menganggap hebat orang-orang yang berhasil masuk universitas-universitas terkenal, seperti UI, ITB, IPB, STAN, dan UGM. Sebaliknya, orang-orang yang sama itu akan menganggap rendah orang yang hanya kuliah di universitas yang tidak terlalu terkenal, atau bahkan tidak kuliah. Padahal, mungkin orang-orang ini tidak kalah hebatnya dengan mereka yang berhasil masuk universitas terkenal. Terkesan pilih kasih dan tidak adil memang, tapi itulah kenyataan di masyarakat kita.

Namun, pandangan seperti itulah yang sebenarnya Kenji ingin coba ubah – which I couldn’t agree more, terutama bagi kita yang termasuk dalam golongan unable-to-enter-top-universities, “If you fall, pick yourself up and do your best. In life there are many correct answers. Go find the correct answers for you, go and have a magnificent life!” Jangan nyerah deh kalau kamu sekarang lagi jatuh – nggak berhasil masuk universitas ngetop dan dipandang rendah masyarakat. Bangkit dan lakukanlah yang terbaik yang kamu bisa. Nggak seperti soal dengan multiple choice, hidup itu penuh dengan pilihan yang benar. Cari dan temukan jawabanmu sendiri dan buatlah hidupmu berharga dan luar biasa.

Bagi yang penasaran dan ingin menontonnya, bisa mampir di sini. Kalian juga bisa men-download drama ini secara gratis di sini. Happy watching!

One thought on “Dragon Zakura: Ketika Universitas Menjadi Tolok Ukur Kesuksesan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s