Akumu-chan: Antara Mimpi, Kenyataan, dan Masa Depan


“mim·pi (n) 1. sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur; 2. angan-angan.”

“dream /driːm/ (noun) 1. a series of thoughts, images, and sensations occurring in a person’s mind during sleep; 2. a cherished aspiration, ambition, or ideal.”

Dari dua definisi di atas udah jelas kan kalau mimpi itu cuma bunga tidur, alias nggak nyata. Tapi gimana jadinya kalau mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan, termasuk mimpi buruk? A prophecy. Yup, a prophecy of bad things.

600full-akumu-chan-poster

Takut dan cemas. Ya, kurang lebih seperti itulah yang dirasakan Koto Yuiko (Kimura Manatsu), seorang anak SD yang mempunyai kemampuan memprediksi kejadian-kejadian yang akan menimpa seseorang yang dia temui, terutama kejadian buruk. Namun, mimpinya ini berupa simbol-simbol dan membutuhkan seseorang untuk mengartikannya. Di saat itulah Yuiko masuk ke sekolah Mutoi Ayami (Kitagawa Keiko); seorang guru SD yang selalu tampil perfeksionis dan ramah — lovable — di depan murid dan rekan kerjanya. Namun sebenarnya ia adalah orang yang cuek, skeptis, bahkan sarkastik. Benar-benar kebalikan dari penampilan luarnya. Dan akhirnya Ayami, guru kelas Yuiko, dipaksa (karena keadaan) untuk membatu Yuiko mengartikan mimpi-mimpinya. Tidak hanya sampai di situ, Ayami juga akhirnya ikut terlibat dalam mencegah agar mimpi-mimpi Yuiko tidak menjadi kenyataan; mengubah masa depan. Cerita makin menarik ketika ternyata diketahui bahwa Mutoi Ayami juga punya kemampuan melihat masa depan lewat mimpi yang bahkan Ayami sendiri tidak menyadari.

Two-faces Ayami

Selain plot dan tema cerita yang menarik (sci-fi, fantasy, school life), yang paling menarik dari Akumu-chan ini adalah karakter Mutoi Ayami; having two faces. Ketika berhadapan dengan orang banyak, Ayami lebih senang memakai topengnya agar disukai oleh orang lain dan untuk menghindar dari masalah-masalah dan tanggung jawab yang tidak ia inginkan. Karena itu memang bukan kepribadian aslinya, Ayami sering ‘makan hati’ karenanya.

Living in dreams

Ketimbang kenyataan, Mutoi Ayami lebih senang hidup dalam mimpi. Terbukti, tiap malam dengan kemampuannya, Ayami memanipulasi mimpinya sendiri sehingga yang muncul adalah apa yang ia inginkan – mimpi indah setiap saat. Ketika kembali ke kehidupan nyata, yang ia lakukan hanyalah menggerutu.

The reality

Kembali ke dunia nyata dan meninggalkan Ayami beserta kehidupannya, banyak dari kita yang sebenarnya juga seperti Ayami. Memakai topeng dan hidup dalam mimpi. Sepanjang hidupnya hanya dihabiskan untuk menggerutu dan berandai-andai; if I were rich, if I were beautiful/handsome, if I were clever, if I were her/him, if I were…, if I were…. Tapi pernah nggak sih kita melihat hidup kita dari sudut pandang yang lain, that I will be rich and I am beautiful/handsome. No more if-I-were phrases!! Kurasa itu juga yang ingin disampaikan oleh TV series ini; selama masa depan belum terjadi, then we still have plenty of opportunities to change it. Live your dreams, not live in your dreams.

Despite of the plot and story, which are good, the visual effects are also amazing. Pokoknya, kalau nonton Akumu-chan, kamu bakal serasa dibawa ke dunia fantasi beneran. Or, at least, kamu seperti nonton Alice in Wonderland versi agak horornya.

Selain Kitagawa Keiko dan Kimura Manatsu, drama Jepang yang satu ini juga dibintangi oleh Gackt (Takashi Shiki), Yuka (Kotoha Hirajima), dan Fumiyo Kohinata (Koto Mannosuke).

Penasaran? Kamu bisa nonton TV series ini secara online (dan gratis) di sini. Kamu juga bisa download Akumu-chan, gratis, di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s