Pariwisata Massal, Yay or Nay?


Acara TV di Indonesia ternyata ada juga yang bermutu. 100 Hari Keliling Indonesia, begitulah nama program TV yang semalam kutonton. Malam itu, program TV tersebut menayangkan episode pulau Derawan, sebuah pulau di timur Kalimantan yang terkenal dengan pariwisata lautnya; diving. Bahkan pulau ini menjadi salah satu dari 5 besar destinasi wisata diving di dunia. Oleh karena itu banyak wisatawan lokal dan asing yang mengunjungi pulau ini. Bisnis pariwisata pun berjalan lancar dan berhasil mendatangkan pundi-pundi uang bagi penduduknya.

Namun di balik manisnya bisnis pariwisata di sana, pulau Derawan juga menyimpan cerita kelam akibat pariwisata massal yang sedang berlangsung di sana. Peningkatan jumlah penduduk secara drastis, yang tidak seimbang dengan luas pulau, serta kedatangan wisatawan yang over capacity pada musim-musim tertentu membuat pulau kecil bernama Derawan ini sesak. Tidak berhenti sampai di situ, ketidaksiapan para penduduk dengan pariwisata massal ini juga mendatangkan masalah tersendiri bagi pulau ini. Yang paling disayangkan tentu saja kerusakan alam yang terjadi karena kurangnya perhatian penduduk sekitar akan kelestarian lingkungan.

Mungkin ini juga yang sedang terjadi di Gunungkidul, pariwisata massal. Saat ini banyak obyek wisata di Gunungkidul ynag sedang menjadi primadona; telusur sungai bawah tanah, pantai-pantai berpasir putih yang masih perawan, trekking di gunung api purba, sampai menikmati indahnya malam di bukit bintang. Wisatawan lokal maupun asing pun datang berbondong-bondong, ingin mengunjungi satu per satu obyek wisata yang ada. Alhasil, jalan Jogja-Wonosari di saat weekend dan liburan pun menjadi padat, hampir menyamai jalan menuju Puncak, Bogor. Bahkan mungkin ini lebih parah karena kondisi jalan yang cukup ekstrem; jalan yang tidak begitu lebar, menanjak, plus banyak tikungan tajam. Perjalanan Jogja-Wonosari yang tadinya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam menggunakan motor, sekarang jadi lebih lama – 1,5 sampai 2 jam.

Itu baru kondisi jalan, belum lagi pengelolaan obyek wisatanya yang terkesan seadanya, berantakan bahkan; manajemen parkir, pedagang, sampai hal kecil yang sering dianggap remeh tapi sebenarnya penting – sampah. Tak ayal, obyek wisata Gua Pindul pun menjadi rebutan karena kurang tegasnya pemerintah dareah dan kurang siapnya masyarakat dengan pariwisata massal. Mereka tidak melakukan perencanaan yang matang, yang penting uang datang.

601771_576559139077822_822607726_n

Lihat saja foto di atas. “Lihat foto ini kita SENANG tapi MIRIS.” Begitulah caption foto tersebut di akun facebook KotaJogja. Mungkin itu adalah bukti nyata dari kurang siapnya penduduk sekitar akan pariwisata massal. Sebagai warga Gunungkidul aku merasa senang karena Gunungkidul mulai dikenal, bukan lagi karena berita tanahnya yang tandus, tapi karena keindahannya. Di lain pihak aku juga merasa miris karena obyek wisata yang seharusnya dijaga kelestariannya menjadi rusak karena terlalu dieksploitasi demi faktor ekonomi.

Sebagai warga Gunungkidul sih, aku berharap semoga kondisi seperti ini tidak berlangsung lebih lama. Pemerintah bersama masyarakat harus bekerja sama dalam mengelola obyek-obyek wisata tersebut. Buat perencanaan yang matang, jangan hanya fokus pada sektor ekonomi, tapi pikirkan juga kelestarian alamnya agar obyek-obyek wisata tersebut bisa memberikan manfaat jangka panjang.

Terakhir, aku mau mengutip kalimat yang ditulis oleh KotaJogja perihal pariwisata dan pelestarian alam. “Marilah kita bersahabat dengan alam supaya kita bisa harmonis dekat dengan Alam yang memberikan berkah untuk kita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s