Ini Malam Minggu dan Mati Lampu


Ini malam minggu dan mati lampu. Ya, malam minggu ini kulalui di kos sendirian dalam suasana remang karena mati lampu. Mati lampu bukan karena sekadar lampu kamarku mati, tapi karena PLN sedang tidak ingin mengalirkan lisriknya ke rumah-rumah. Ya, beberapa hari lalu PLN memang sudah memberi informasi kalau akan terjadi pemadaman listrik selama musim penghujan ini. Katanya sih demi alasan keamanan.

Ini malam minggu dan mati lampu. Aku sadar, mati lampu mungkin memang bukan istilah yang tepat. Mati listrik, begitu sebagian besar orang akan menyebutnya. Tapi bagi kebanyakan masyarakat desa, dan aku berasal dari desa, fenomena seperti ini disebut mati lampu. Tentu saja karena si lampu yang tadinya menyala, karena dialiri listrik, mati secara tiba-tiba. Mereka tidak mau repot-repot berpikir kenapa lampunya bisa mati (karena tidak ada arus listrik). Karena itu mati lampu sama saja dengan mati listrik.
candle
Ini malam minggu dan mati lampu. Karena sendirian di kos dan esoknya libur, rencananya aku akan menghabiskan malam minggu ini dengan nonton film atau dorama Jepang sepuasnya. Tapi sekali lagi, ini malam minggu dan mati lampu. Tanpa suplai listrik, baterai laptop hanya mampu membuat laptop berfungsi selama 1 sampai 1,5 jam. Dan sialnya, baterai laptopku hanya tersisa tidak sampai setengahnya. Ah, nonton film atau dorama jelas tidak bisa.

Ini malam minggu dan mati lampu. Kunyalakan lilin besar yang ada di meja kamar kosku. Lilin ini tentu saja kusiapkan untuk kondisi-kondisi seperti ini. Kondisi di mana aku tidak bisa mengandalkan lampu untuk menerangi kamar. Jadi, aku tidak akan diam dalam gelap selama PLN memutus arus listriknya untuk sementara.

Ini malam minggu dan mati lampu. Sunyi dan sepi yang kurasakan saat ini. Biasanya, di jam-jam seperti ini anak-anak kos baru pulang dari aktivitasnya di luar. Lalu mereka akan melakukan kegiatannya masing-masing di dalam kamar. Ada yang menonton TV, menonton film lewat laptop, mendengarkan radio, atau mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik yang dimainkan melalui laptop atau ponsel mereka. Intinya, suasananya pasti tidak akan sesunyi sekarang.

Ini malam minggu dan mati lampu. Saking heningnya, aku sampai bisa mendengar suara bising kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya yang berjarak sekitar 300-400 meter dari kosku. Biasanya suara bising itu baru bisa didengar pada larut malam atau pagi buta. Waktu di mana sebagian besar mata masih terpejam dan hanya sedikit yang terjaga.

Ini malam minggu dan mati lampu. Aku jadi membayangkan betapa kacaunya lalu-lintas kota Jogja malam ini. Mati lampu berarti traffic light juga mati. Kalau tidak ada yang mengatur, para pengendara pasti akan berkendara dengan semau mereka, tidak ada yang mau mengalah. Apalagi di perempatan-perempatan, kendaraan akan numpuk di tengah-tengah – maju tidak bisa, mundur pun tidak bisa. Dan akhirnya jalanan akan berubah jadi arena lomba klakson – klakson kendaraan siapa yang bunyinya paling keras.

Ini malam minggu dan mati lampu. Biasanya, malam minggu dijadikan orang-orang sebagai momen hangout alias jalan-jalan. Entah itu dengan teman, pacar, kolega, atau keluarga. Tempat tujuannya? Macam-macam. Tapi sekarang ini mal menjadi pilihan utama sebagai tempat hangout. Alasannya simpel, semua ada di mal. Mulai dari tempat belanja, bioskop, restoran, toko buku, sampai arena bermain anak ada di mal. Lalu gimana suasana mal saat mati lampu seperti ini? Untung genset sudah ditemukan, bisnis di mal pun bisa terus berjalan. Ah, aku jadi membayangkan gimana jadinya mal saat genset belum diciptakan. Apa iya si pengelola akan menyalakan lilin, seperti yang sekarang kulakukan, atau lampu petromak di spot-spot tertentu agar para pengunjung tidak berada dalam kegelapan terlalu lama? Lalu apakah bisnis bisa terus berjalan? Kurasa tidak. Orang-orang pasti lebih memilih untuk pulang daripada berada dalam mal dengan hanya berpenerangan lilin atau lampu petromak. Kurasa mal pun tak ubahnya pasar malam jika hal-hal yang kuandaikan itu memang benar terjadi.

Ini malam minggu dan mati lampu. Kipas angin dan AC pun jadi tak berguna di saat seperti ini. Panas. Berada di dalam kamar saat ini seperti berada di dalam ruangan gelap tanpa ventilasi udara. Benar-benar tidak menyenangkan. Kuputuskan untuk keluar kamar, mencari kesejukan dan menyapa bulan yang bersinar redup malam ini karena tertutup awan mendung. Ya, mendung. Mungkin kalau tidak mendung, aku bisa melihat indahnya bulan yang ditemani ribuan bintang dalam tugasnya menerangi langit malam ini. Ah, mungkin lain kali.

Sekali lagi, ini malam minggu dan mati lampu. Anak-anak kos yang lain sudah mulai kembali dari aktivitasnya di luar, entah itu kerja, makan malam, atau mungkin kencan. Kalimat pertama yang keluar dari mulut mereka begitu menyaksikan kegelapan yang meliputi bangunan kos sama, “Aduh, mati listrik, ya?” Lalu mereka masuk kamar dan mengecek persediaan lilin dan korek api mereka. Beberapa dari mereka yang sudah kehabisan stok lilin atau korek kemudian mengetuk pintu kamar tetangganya, minta lilin atau pinjam korek tentu saja. Ada juga yang memutuskan untuk tinggal di sana sebentar, karena takut sendirian dalam kamar yang gelap, lalu berbincang sebentar walaupun sebagian besar yang dibincangkan adalah ungkapan kekesalan karena mati lampu.

Ini malam minggu dan mati lampu. Seperti halnya anak-anak kosku yang menggerutu karena mati lampu, ratusan bahkan
ribuan orang di luar sana mungkin akan berkomentar sama. Mereka pasti sebal. Karena mati lampu, ruang gerak jadi terbatas. Aktivitas yang bisa dilakukan pun terbatas. Mereka menggerutu karena jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Mati kutu. Lalu aku jadi membayangkan apa yang dilakukan orang-orang di malam hari seperti saat ini ketika listrik belum ditemukan. Akankah mereka menggerutu karena gelap dan tidak bisa melakukan apa-apa? Kurasa tidak. Mereka tetap bisa beraktifitas. Lalu apa yang mereka lakukan? Tentu saja bukan menonton TV apalagi main laptop. Kenapa? Jelas, karena listrik belum ditemukan. Jadi, mereka akan menghabiskan sebagian besar malam-malam mereka di rumah, ngobrol dengan anggota keluarga. Rasanya hubungan antar anggota keluarga jadi lebih intim karena punya waktu berinteraksi yang lebih banyak.

Ini malam minggu dan mati lampu. Ah, mungkin mati lampu tidak selamanya jelek. Coba lihat dari sudut pandang yang lain. Mati lampu itu memberikan waktu bagi kita untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan kita yang menyita waktu dan tenaga, kemudian menenangkan diri. Mati lampu itu juga memaksa kita untuk jadi kreatif. Karena kita jadi harus berpikir keras, cari ide, bagaimana caranya biar nggak mati kutu saat mati lampu. Mati lampu membuat kita jadi makhluk yang lebih sosial daripada biasanya, walaupun yang terujar dalam interaksi yang hanya sebentar itu hanyalah ungkapan kekesalan belaka. Mati lampu itu juga membuat kita merasa sangat beruntung. Beruntung karena kita hidup di masa di mana terang lebih sering menemani di malam hari.

Ini malam minggu dan sudah tidak mati lampu. Ya, listrik sudah kembali mengalir beberapa saat yang lalu, bersamaan dengan aku yang menyadari bahwa pulpen yang sedari tadi kugunakan untuk menulis itu ternyata bertinta biru. Satu per satu lampu kamar di kosku mulai menyala. Gelap yang tadi merajai malam, sedikit demi sedikit tergeser oleh terang lampu. Hening dan sunyi pun perlahan-lahan menghilang seiring dengan hadirnya suara nyanyian Tylor Swift dari speaker laptop kamar tetangga.

Ini malam minggu dan sudah tidak mati lampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s