Shogun 125, Jalan Jogja-Wonosari, dan Tragedi Sabtu Siang


Sabtu, 12 Oktober kemarin memang sangat istimewa. Selain satu dari teman baikku, Ratna, hari itu diwisuda, Sabtu kemarin mungkin akan menjadi Sabtu yang tidak akan terlupakan — terlebih bagi adikku, Eka.

Jauh-jauh hari, Sabtu tanggal 12 Oktober kemarin memang sudah terjadwal sebagai Sabtu yang sibuk. Pasalnya, selain bekerja, hari itu aku akan menghadiri wisuda salah satu teman baikku. Yang membuatku akan jadi lebih sibuk lagi adalah aku harus cepat-cepat pulang ke Wonosari karena pada pukul 4 sore adikku harus pergi ke pantai Baron bersama tim Bridge-nya untuk latihan. Sebagai “tukang ojek” yang baik tentu saja aku harus mengantarkan adikku ini dengan selamat sampai tujuan.

Siapa sangka, jadwal yang pada awalnya sudah tersusun rapi itu menjadi berantakan. Karena jadwal yang padat dan ketakutanku yang tidak bisa mengantarkan Eka sampai rumah tepat waktu, aku menyuruhnya pulang dulu dengan bus. Waktu itu aku mengira kalau aku akan pulang cukup siang, pukul 2. Dengan begitu, kami (aku dan Eka) pasti akan terburu-buru, karena paling cepat kami akan sampai rumah pukul setengah 4, sedangkan pukul 4 Eka sudah harus berangkat. Ternyata, pukul setengah dua aku sudah sampai di kos dan tidak menjumpai Eka di sana. Setelah ku-SMS, ternyata Eka sudah sampai ringroad Ketandan, sedang menunggu bus jurusan Wonosari. Karena urusanku sudah selesai, maka aku segera menjemput Eka di sana dan berencana pulang ke Wonosari dengan berboncengan saja. Pikirku pasti akan lebih cepat sampai daripada naik bus.
PicMonkey Collage
Benar saja, kira-kira pukul 2 lebih lima belas aku sampai di ringroad Ketandan dan mendapati Eka di sana dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Setelah melihatku, Eka pun bergegas menghampiriku dan memakai jaket serta helmnya. Sangat mengenal caraku dan kecepatanku dalam mengendarai motor, terutama dalam keadaan ramai, Eka memaksa agar aku membonceng saja. Beberapa kali aku menolak, tapi jarum jam terus bergerak, dan jika perdebatan itu terus dilanjutkan, kami akan lebih lama sampai di rumah. Akhirnya aku mengalah. Kubiarkan saja Eka yang mengendarai motor. Bak seorang pembalap, Eka kemudian membelah jalanan Jogja-Wonosari yang siang itu begitu padat.

Karena sudah mengenal cara berkendaranya dengan baik, terlebih saat dia sedang terburu-buru, aku jadi sangat khawatir. Sejak meninggalkan ringroad Ketandan, aku tak henti-hentinya berdoa, minta keselamatan tentunya. Namun Tuhan punya rencana yang berbeda. Saat kami memasuki daerah Piyungan, sebelah timur SPBU, jalanan tampak begitu padat. Di depan kami ada barisan mobil-mobil dan truk yang berjalan lambat karena di bagian paling depan ada sebuah truk besar bermuatan pasir berjalan dengan lambat pula.

Mungkin karena terburu-buru dan tidak mau terjebak kemacetan itu; berjalan di belakang mobil, Eka pun mengambil lajur kiri. Sayangnya, tanah berpasir di pinggir jalan — karena memang di dekat situ ada sungai yang pasirnya sering dikeruk untuk kemudian dijual — ditambah laju motor yang masih lumayan cepat, motor pun kehilangan keseimbangan. Akhirnya, motor oleng ke kiri, Eka jatuh, dan aku pun koprol — literally. Dengkul bonyok dan luka lebam di beberapa bagian tubuh pun menjadi hadiahnya. Thanks to bapak-bapak baik hati, yang belakangan diketahui bernama Pak Haryanto dan rumahnya dekat Pasar Wage, yang mau menolong kami mengantarkan ke Puskesmas Piyungan. Upahmu besar di surga, Pak.

Yah, begitulah. Akhirnya di Puskesmas itu kami mendapatkan pengobatan. Luka di lutut Eka lebih parah daripada punyaku karena dia waktu itu hanya memakai rok, sehingga lututnya langsung “bersentuhan” dengan aspal jalan Jogja-Wonosari yang keras. Sedangkan aku harus merelakan salah satu jeansku karena robek dan harus dipotong untuk memudahkan si dokter mengobati lukaku. Motorku? untungnya si Shogun 125 yang sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak 9 tahun yang lalu itu masih sehat. Hanya saja kaca spion kirinya harus diganti dan lecet-lecet di tubuhnya harus bertambah.

Karena kaki kiri kami berdua luka, tentu saja kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor. Pada kira-kira pukul 5 kami dijemput dan pulang dengan naik mobil. Motorku dibawa oleh ibuku dan sampai rumah dengan selamat — both of them, my mother and the motorcycle.

Saat ini aku sudah bisa berjalan, tapi tangan kananku masih belum bisa digunakan untuk melakukan pekerjaan berat. Sedangkan Eka masih harus bedrest untuk beberapa hari ke depan. Pasalnya, walau sudah bisa dipakai jalan, pergerakan kaki yang terlalu banyak akan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa di lututnya.

Well, kami anggap ini sebagai peringatan dari Tuhan kalau segala sesuatu yang dilakukan dengan buru-buru dan dengan hati dan pikiran yang tidak tenang itu akan membuahkan hasil yang tidak baik. Jadi, jangan dicontoh ya, guys!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s