Beaches, Here I Come!


 

26

Lebaran, liburan, mudik, jalan-jalan. Rasa-rasanya memang empat kata itu selalu berkaitan. Ketika libur lebaran tiba, semua orang berbondong-bondong mudik — untuk merayakan lebaran bersama keluarga tentunya. Walaupun bukan orang muslim dan tidak secara literal merayakan lebaran, aku pun ikut pulang kampung, ke kota Wonosari tepatnya. Kebetulan, lebaran tahun ini saudara-saudaraku yang dari Bandung dan kakakku yang sudah merantau di Jakarta pun datang. Tentu saja, lebaran kali ini akan menjadi lebaran yang ramai.

Karena momen berkumpul ini jarang didapatkan, keluarga besarku pun berencana untuk liburan bareng. Kebetulan, kampung halamanku ini terkenal dengan wisata alamnya; ada belasan jajaran pantai, gua, sungai, air terjun, dll. Dari sekian banyak tempat wisata yang ada, kami memutuskan untuk pergi ke pantai. Sepanjang dan Indrayanti pun menjadi pilihan kami.

Seperti musim libur lebaran yang sebelum-sebelumnya, pantai-pantai di Gunungkidul pasti akan ramai pengunjung di hari ke-2 lebaran hingga H+7. Oleh karena itu, kami sekeluarga berangkat agak pagi agar tidak terjebak macet di jalan. Pukul 08.30 setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, dengan menggunakan dua mobil Avanza hitam, kami pun berangkat ke pantai. Seperti yang kami harapkan, jalanan belum macet alias lancar. Sebelum memasuki area pantai kami harus membayar biaya retribusi sebanyak Rp 30.000 per mobil dengan jumlah 6 orang per mobilnya. Destinasi pertama adalah pantai Sepanjang yang terletak di sebelah timur pantai Kukup.

Begitu masuk area pantai, aku terkejut. Pantai Sepanjang yang dulu kukenal sudah banyak berubah. Pertama kali aku kesana, jalan masuk menuju pantai masih sangat terjal dan pantainya pun masih sangat sepi. Saking sepinya, aku sampai merasa berada di pantai pribadi. No parking lot, no vendors, and barely has visitors. Sekarang keadaannya sudah jauh bebeda. Jalan sudah diaspal, tersedia tempat parkir, banyak penjual, bahkan ada penyewaan payung bak pantai-pantai di Bali. Tapi satu yang tidak berubah, pemandangannya. Pasir putih yang terhampar di bibir pantai yang panjang, air lautnya yang biru, anginnya yang dingin, dan kebersihannya pun masih sama.

Walau sudah makin dikenal dan mulai dikelola dengan baik, pamor panti ini masih kalah dengan pantai-pantai yang lainnya, yang memang lebih dahulu dikenal. Jumlah pengunjungnya masih terbilang sedikit jika dibandingkan pantai-pantai lain seperti Baron dan Kukup. Mungkin hal itu juga karena faktor waktu. Kedatangan kami di pantai Sepanjang memang bisa dibilang masih pagi. Jadi wajar kalu belum banyak pengunjung yang datang. Tapi aku malah senang. Pasalnya, aku dan saudara-saudaraku jadi bisa bermain sepuasnya tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain.9

Cukup puas bermain-main di pantai Sepanjang, kami lalu beranjak meinggalkan pantai dan berangkat menuju pantai berikutnya. Karena waktu sudah semakin siang, maka jumlah pengungjung pun makin bertambah. Jalanan yang tadinya lumayan sepi tiba-tiba menjadi ramai ketika kami keluar area pantai dan menuju jalan utama. Just for your information, jalan utama menuju pantai-pantai di selatan Gunungkidul ini tidaklah begitu lebar, jadi jika volume kendaraan; terutama mobil; meningkat, maka akan terjadi kemacetan panjang. Kemacetan ini makin terasa ketika mobil kami sudah mendekati lokasi pantai Indrayanti. Banyaknya mobil yang mencari tempat parkir, ditambah pengungjung yang berlalu-lalang di jalan, membuat semua kendaraan berjalan dengan lambat.

2933

Berbeda dengan pantai Sepanjang, pantai Indrayanti penuh dengan lautan manusia. Karena ramainya, kami sempat mengurungkan niat masuk area pantai. Tapi sepertinya rasa penasaran kami lebih besar, jadi akhirnya kami masuk area pantai juga. Hampir sama dengan pantai Sepanjang, pasir pantai Indrayanti pun putih, garis pantainya pun panjang. Yang membedakannya dengan pantai Sepanjang, dan mungkin pantai-pantai lainnya di Gunungkidul, adalah pengelolaannya. Menejemen pengelolaan yang sangat baik membuat pantai ini berkembang dengan pesat. Dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Gunungkidul, pantai ini bisa disebut memiliki level yang paling tinggi, bintang 4 – alias menyamai pantai-pantai yang ada di bali. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengelolaan yang ditangani oleh pihak swasta.

Alhasil, karena penuh dengan manusia, kami jadi tidak bisa benar-benar menikmati bermain di pantai Indrayanti. Setelah kira-kira satu jam, kami akhirnya beranjak pulang. Karena jalanan macet, kami pun pulang menggunakan jalur alternatif dan sampai di rumah pada pukul 14.00 siang. Walalupun capek, we enjoy it anyway.

One thought on “Beaches, Here I Come!

  1. Great weblog here! Also your website rather a lot up fast! What web host are you the use of? Can I am getting your associate link on your host? I wish my website loaded up as fast as yours lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s