Kue Sisa


kue

Minggu pagi, seperti biasa aku dan adikku pergi ke gereja mengikuti misa pagi. Seperti biasa pula, karena bangun kesiangan aku berangkat dengan terburu-buru. Untung saja, ketika aku sampai di gereja misanya belum dimulai. Namun rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba datang menyerang. Gara-gara itu aku tidak bisa konsentrasi di dalam gereja. Rasanya ingin cepat-cepat pulang dan melanjutkan tidur di rumah.

Tahapan demi tahapan prosesi misa dilakukan, namun rasa kantukku makin hebat saja. Hingga tiba pada saat homili. “Bakal tambah ngantuk nih,” pikirku. Romo kemudian mengawali homilinya dengan sebuah cerita. Cerita seorang ibu yang selalu membawakan roti sisa untuk anaknya sepulang dari mengikuti rapat di gereja. Tentu saja anak tersebut merasa sangat senang tiap kali ibunya pulang dengan membawa roti sisa rapat.

Sampai suatu ketika si anak mengikuti ibunya ke gereja. Dia bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh di halaman gereja dan memperhatikan ibunya yang sedang rapat di dalam gedung gereja. Dia terus menunggu sampai pada saatnya untuk makan snack. Semua ibu-ibu yang berada dalam gedung itu bangkit berdiri dan mengambil masing-masing sebuah roti. “Ibu pasti membawa roti sisa nanti ketika pulang,” pikir si anak sambil tersenyum. Namun yang dilihatnya adalah si ibu mengambil sebuah roti, membungkusnya rapi dengan selembar kertas dan memasukkannya ke dalam tas. Sekarang si anak tahu kalau roti yang dia makan tipa pagi itu bukanlah roti sisa, melainkan roti yang sengaja disisihkan untuknya oleh ibunya.

Si anak menjadi gelisah dan bingung. Apa yang harus dia katakan pada ibunya keesokan harinya ketika sebuah roti sudah tersaji dalam piringnya. Dia merasa bersalah karena selalu mengira bahwa roti yang dia makan adalah roti sisa. Akhirnya, si anak itu tetap memakan roti yang dibawakan oleh ibunya namun dengan perasaan yang berbeda; bukan sebagai roti sisa, tapi sebagai roti yang penuh dengan kasih sayang ibunya.

Mendengar cerita tadi, rasa kantukku jadi hilang. Aku jadi berkaca pada kehidupanku sendiri; bagaimana orang tuaku telah memberikan kasih sayang yang begitu melimpah. Begitu juga dengan Yesus. Dia sangat sayang padaku, pada manusia, hingga rela mengorbankan diri demi penebusan dosa manusia; suatu bentuk kasih yang luar biasa. Oleh karena itu, seperti halnya Yesus marilah kita menyebarkan kasih pada sesama manusia. GBU Smile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s