Gara-gara Ceroboh


Pada hari Selasa sore, 22 November 2011, aku pergi ke stasiun Tugu untuk reservasi tiket kereta. Seperti biasa, setiap kali akan pulang kampung, kakakku selalu minta dipesankan tiket untuk kembali ke Jakarta.

Kereta Senja Yogya, berangkat pukul 18.30 dari stasiun Tugu. Itu yang aku tulis pada lembar formulir reservasi. Tanggal yang kutulis adalah 26 Desember, sesuai dengan pesanan kakakku. Selesai menulis, aku mengantri dengan nomor antrian 888 di tangan. Akan menjadi sangat lama, pikirku. Mengapa tidak? Pasalnya, nomor antrian yang dilayani saat itu baru mencapai angka 754.

Awalnya aku agak khawatir tidak akan mendapat tiket. Komputer yang biasanya menampilkan informasi tiket yang masih bisa dipesan tidak dapat digunakan karena adanya sistem ticketing baru yang sedang dikembangkan oleh PT. KAI. Oleh karena itu, aku jadi tidak bisa melihat apakah pemesanan tiket untuk tanggal 26 Desember masih bisa dilakukan atau tidak. Yang bisa aku lakukan saat itu hanya menunggu dan berdoa semoga tiket untuk tanggal 26 Desember belum terpesan semuanya.

Kira-kira 2,5 jam berikutnya, akhirnya nomor 888 dipanggil juga. Formulir reservasi serta nomor antrian aku serahkan pada petugas reservasi tiket. “Untuk tanggal 26 ya mba?” tanya si petugas reservasi. Mendengar si mbak-mbak bertanya demikian, aku sontak menjawab “ya”. Dalam hati aku mengira bahwa tanggal 26 yang ditanyakan oleh petugas tersebut adalah tanggal 26 Desember seperti apa yang aku tulis di formulir reservasi. Uang Rp. 290.00,- dibayarkan dan tiket sudah di tangan.

Merasa sangat senang, tiket langsung aku masukkan ke dalam tas dan kemudian bergegas pulang. Tidak lupa, aku segera SMS kakakku, P221111_20.14mengabarkan bahwa tiket sudah di tangan. Ketika sudah sampai di kos, tiket yang didapatkan dengan susah payah aku keluarkan dari tas. Niat awalnya sih mau mengecek nomor tempat duduk. Aku perhatikan tiket itu dari ujung ke ujung dengan senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba aku baru menyadari sesuatu. Hari keberangkatan yang tertera pada tiket bukan 26 DESEMBER tapi 26 NOVEMBER. DAMN! Terus apa gunanya aku antri 2,5 jam tadi?

Merasa sangat kesal dengan diri sendiri, tanpa sadar aku menangis. Entah kenapa? Walaupun kakakku bilang tidak apa-apa, tinggal minta ganti hari keberangkatan, tetap saja aku merasa bodoh – 290.000 terbuang percuma.

Akhirnya, Jum’at pagi aku kembali ke stasiun Tugu. Mengantri lagi dan menunggu lagi. Hanya saja, kali ini antriannya lebih pendek. Sampai pada giliranku, aku mengatakan pada petugas reservasi kalau aku ingin mengganti hari keberangkatan. Tapi ternyata dari tanggal 26-30 Desember semua tiket tujuan Jakarta yang berangkat pada pukul 18.30 dan 19.00 sudah habis terpesan. OMG, what should I do? Akhirnya, aku bertanya apakah tiket untuk kereta pagi tujuan Jakarta yang berangkat pada hari yang saP251111_11.19_[01]ma masih tersedia. Mungkin aku masih agak beruntung. Tiket untuk kereta pagi masih tersedia. Tanpa pikir panjang aku langsung meng-iyakan untuk mengambil tiket tersebut. Namun, biaya untuk kereta pagi ternyata lebih mahal. Aku harus menambah sebanyak 72.000,- untuk tiket tersebut.

Kejadian tersebut benar-benar membekas bagiku. Selain itu, aku juga belajar bahwa kita harus teliti dalam segala hal. Kalau ceroboh, seperti itulah hasilnya, tidak maksimal – tidak seperti yang diharapkan. So, I’ll try to be more carefull next time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s