the odd hospital (part 1)


Dua minngu lalu ibuku masuk rumah sakit karena serangan jantung. Serangan jantungnya cukup parah sampai-sampai harus dirawat di ruang ICU. Mendengar kata ICU membuatku merinding. Tapi kali ini bukan persoalan sakit jantung yang didera ibuku yang akan dibahas, melainkan fasilitas dan pelayanan yang diberikan Rumah Sakit.

Karena mempertimbangkan jarak tempuh dari rumah ke rumah sakit dan kondisi ibuku yang harus segera mendapaP190611_15.44_[01]tkan perwatan, bapak memutuskan untuk memasukkan ibuku ke Rumah Sakit Umum Daerah. Aku sudah berkali-kali masuk rumah sakit tersebut sekedar menjenguk saudara yang sakit. Terakhir kali aku kesana pada saat mendapatkan kecelakaan tahun lalu. Tidak perlu menginap di rumah sakit untuk memberi penilaian terhadap fasilitas dan pelayanan di rumah sakik tersebut. Menurutku, seharusnya rumah sakit milik pemerintah memiliki fasilitas dan pelayanan yang jauh lebih baik dari rumah sakit swasta. Namun pada kenyataannya, fasilitas yang dimiliki ‘cukup’ bagus hanya saja tidak dibarengi oleh pelayanan yang memuaskan.

Hal-hal aneh bahkan aku temui di rumah sakit tersebut selama menunggu ibuku di sana. Hal aneh pertama yang kutemui adalah jalan masuk rumah sakit yang rusak parah sampai-sampai aku berpikir, bisa-bisa orang malah jadi sakit gara-gara mau ke rumah sakit. Mungkin agak aneh, tapi bukannya tidak mungkin. Bisa saja ada orang yang tergelincir gara-gara batu atau masuk ke dalam lubang. Laughing out loud

Dari pengalamanku membesuk teman atau saudara di rumah sakit swasta, mereka sangat disiplin mengenai jam besuk. Para pengunjung (kecuali yang membawa kartu jaga pasien) tidak diperbolehkan masuk sebelum jam besuk dan harus meninggalkan ruangan pasien waktu jam besuk sudah berakhir. Di rumah sakit ini – walaupun tertulis dengan jelas mengenai jam besuk – para pengunjung bebas keluar-masuk. Yang lebih mengherankan lagi, pedagang makanan pun bisa masuk dengan leluasa, bahkan ke dalam bangsal, untuk menawarkan dagangannya. Surprised smile

Yang ketiga adalah masalah pelayanan. Ketika ada saudara atau kerabat yang dirawat di rumah sakit swasta, kami sekeluarga tenang karena mereka pasti akan mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak rumah sakit, bahkan ketika tidak ditunggui. Keluarga hanya benar-benar menunggu. Bagian memandikan pasien, makan dan memberikan obat perawatnya akan melakukan itu semua. Tapi ketika dirawat di rumah sakit negri, paling tidak harus ada satu orang yang menunggui.

Semua instansi milik pemerintah umumnya memiliki fasilitas yang cukup baik pada awal pembangunannyCBSa. Namun karena tidak dirawat, atau mungkin kurang perawatan, fasilitas-fasilitas yang baik tersebut pada akhirnya menjadi tidak layak. Rumah sakit negri dimana ibuku dirawat waktu itu memiliki moto CBS (Cepat, Bersih, Simpatik). Tapi kenyataannya berbeda. Pelayanannya lambat, untuk mengganti infus saja bapak harus ke ruang perawat. Dan yang paling aku tidak suka dari rumah sakit milik pemerintah adalah simtem birokrasi yang rumit.

Bicara soal fasilitas, setiap rumah sakit pasti memiliki standar fasilitas yang harus dimiliki setiap kamar pasien, misalnya tempat tidur, oksigen, toilekipas angint, dan banyak lagi. Ruangan dimana ibuku dirawat waktu itu menurutku jauh dari kata layak untuk sebuah rumah sakit. Untuk ruangan berkapasitas dua orang, oksigen yang disediakan hanya satu dan selangnya menurutku sudah agak tidak layak. Kipas angin memnag ada dua, tapi jika dinyalakan mungkin akan membuat pasiennya semakin sakit. Bagaimana tidak, debu yang menempel pada kipas angin tersebut sudah tebal. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kipas tersebut dibersihkan. Atau malah sejak kipas angin tersebut dipasang?

Bel untuk pasien juga tidak kalah penting. Bel tersebut fungsinya untuk memanggil suster jaga kalau si pasien membutuhkan sesuatu atau terjadi sesuatu. Rumah sakit yang sedang aku bicarakan ini ‘memang’ punya fasilitas tersebut. Tapi persoalan berfungsi atau tidak masih dipertanyakan. Cara kerja bel ini sebenarnya seperti kebanyakan bel. Cukup menekan tombol ‘call’ pada controller maka lampu yang terletak di atas pintu masuk akan menyala diikuti suara – mungkin seperti sirene ambulans. Tapi, seperti yabel-horzng tadi sudah dibahas, masih berfungsi atau tidaknya alat ini dipertanyakan sebab penutup lampu sirene yang berada di atas pintu masuk sudah hilang.

Tidak disangkal lagi, sebuah rumah sakit haruslah menjunjung tinggi kebersihan. namun, yang aku temuai di rumah sakit tempat ibuku dirawat adalah sebaliknya. Tiang infus yang digunakan sudah berkarat. Padahal ruangan yang digunakan sudah kelas 1. Surprised smile Sungguh mencengangkan bukan. Belum lagi kamar mandinya. Pintunya sudah berkarat dan bolong di badian bawahnya, bahkan sudah tidak bisa ditutp dengan rapat. Lampunya sudah mati, jadi agak was-was juga kalau terpaksanya harus ke kamar mandi waktu malam. Kebrsihannya? Jangan tanya! Tentu saja tidak bersih. Deskripsinya seperti toilet-toilet umum yang ada di terminal. Bahkan ada kecoa yang keluar dari sana. Tiga hari aku menunggui di sana, sama sekali tidak ada cleaning service yang membersihkan kamar mandi itu. Sick smile

4 thoughts on “the odd hospital (part 1)

  1. mbaknya yg sabar ja..orng atas sana terlalu sibuk dgn urusan msing2….. bwt ibu mbakny, smoga lekas sembuh. klo dah sembuh, smoga gk kumat2 lg…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s